JAKARTA
Singapore Airlines (SIA) melaporkan kerugian bersih SD1,12 miliar atau Rp11,92 triliun pada kuartal pertama tahun ini.
Penyebabnya, ujar lembaga itu, permintaan perjalanan menurun tajam di tengah pembatasan karena pandemi Covid-19.
“Grup memasuki kuartal pertama pada saat kondisi pasar memburuk dengan cepat karena penyebaran Covid-19 secara global,” kata Singapore Airlines, dalam siaran persnya.
Pada kuartal pertama ini, pendapatan SIA menurun 79,3 persen tahun ke tahun menjadi SD851 juta atau Rp9,05 miliar, seiring penurunan jumlah penumpang hingga 99,4 persen.
Meski pula pengeluaran turun 51,6 persen menjadi SD1,89 miliar atau Rp20,1 miliar.
Penurunan jumlah penumpang ini berkebalikan dengan pengiriman kargo yang mengalami “permintaan yang tinggi”, khususnya untuk produk alat pelindung diri, farmasi dan makanan segar.
“Selain memaksimalkan pemanfaatan kapal barang, SIA secara proaktif mengerahkan pesawat penumpang untuk lebih meningkatkan kapasitas kargo,” ujar dia.
Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) dan Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) memproyeksikan pertumbuhan bisnis penerbangan akan menggeliat seiring pengurangan pembatasan di sejumlah negara, meski amat perlahan.
Meski begitu, kata SIA, perlu dua hingga empat tahun agar pasar penerbangan kembali normal seperti semula.
SIA menargetkan akan dapat memperoleh 7 persen dari kapasitas penumpang normal pada Agustus dan September.
Sementara hingga penghujung tahun, SIA menargetkan dapat merangkul setidaknya separuh penumpang dari kapasitas normal.
news_share_descriptionsubscription_contact
