JAKARTA
Mata uang Thailand baht mengalami depresiasi mendadak terhadap dolar AS pada Selasa setelah Menteri Keuangan Predee Daochai mengajukan pengunduran dirinya meski baru menjabat kurang dari sebulan.
Perdana Menteri Prayuth Chan-o-cha menyetujui pengunduran diri Predee, menurut Royal Gazette.
Predee mengungkapkan masalah kesehatan sebagai alasan pengunduran dirinya, kutip the Bangkok Post.
Namun media lokal menyebutkan bahwa dia dan Wakil Menteri Keuangan Santi Promphat berselisih pendapat soal pengisian pejabat pada posisi puncak lembaga-lembaga di bawah Kementerian Keuangan.
Santi dianggap salah satu kelas berat Partai Palang Pracharath, yang memimpin koalisi pemerintah.
Predee, yang sampai saat ini menjadi co-presiden Kasikornbank, dilantik sebagai Menteri keuangan pada 12 Agustus lalu bersama dengan lima menteri baru lain setelah perombakan kabinet.
Pengunduran dirinya membuat investor khawatir yang tercermin dari depresiasi baht dalam waktu relatif cepat dan aksi jual di Bursa Efek Thailand, meskipun dengan margin minimal.
Sebelumnya pada hari yang sama, mata uang lokal terapresiasi melewati angka 31-per-dolar menjadi 30,90 didukung depresiasi dolar AS sebelum mundur ke 31,09.
Baht, mata uang berkinerja terburuk kedua di Asia tahun ini, melemah karena ekonomi Thailand yang bergantung pada pariwisata terpukul keras oleh pembatasan perjalanan akibat virus corona.
Pengunduran diri Predee akan semakin menggoyahkan kepercayaan investor seiring dengan harapan pemulihan ekonomi melalui kesinambungan kebijakan fiskal, kata Kobsidthi Silpachai, kepala penelitian pasar modal di Kasikornbank.
Pusat Penelitian Kasikorn merevisi perkiraan pertumbuhan PDB Thailand untuk ketiga kalinya tahun ini, memperkirakan ekonomi menyusut 10 persen, turun dari kontraksi 6 persen dan tingkat pertumbuhan 0,5 persen yang diprediksi sebelumnya.
Kontraksi yang lebih dalam terutama berasal dari pandemi Covid-19 dan penurunan permintaan eksternal, terutama ekspor dan pariwisata.
news_share_descriptionsubscription_contact
