JAKARTA
Kelompok masyarakat sipil Myanmar mengungkapkan korban tewas sejak kudeta militer mencapai 931 orang.
Dalam laporan Asosiasi Pendamping untuk Tahanan Politik (AAPP), Jumat dini hari, tercatat penambahan dua korban asal Sagaing yang tewas pada Rabu dan didokumentasikan Kamis.
AAPP melaporkan pasukan junta menyerbu Desa Kun Seik di Kotapraja Shwebo, Sagaing, pada 21 Juli, dan menembak warga lokal Thein Tint alias Jit Lei yang sedang melarikan diri karena ketakutan.
Mantan ketua Komite Pengembangan Kotapraja Minkin, Sagaing, Khin Mar Yi alias Phwar Cho tewas di penjara pada 21 Juli karena menderita penyakit diabetes dan gagal jantung.
Menurut AAPP, Khin Mar Yi yang ditangkap karena terlibat dalam Gerakan Pembangkangan Sipil (CDM) dan mengikuti aksi protes, tidak diizinkan mendapat perawatan medis saat ditahan.
Hingga 22 Juli, data AAPP menunjukkan 5.333 orang masih ditahan, 255 di antaranya dijatuhi hukuman.
AAPP mengungkapkan pasukan junta menangkap tiga orang yang berprofesi sebagai jurnalis, terdiri dari ibu dan dua anak perempuannya, di rumah mereka di Taunggyi, Negara Bagian Shan, pada 20 Juli.
Sang ibu bernama Mya Wunn Yan merupakan pemimpin redaksi Kantor Berita Than Lwin Thway Chinn, sementara dua anaknya, Nan Khin Hphone Thwe dan Su Myat Noe, berprofesi sebagai reporter.
Myanmar diguncang kudeta militer pada 1 Februari dengan menggulingkan pemerintah terpilih Aung San Suu Kyi.
Militer berdalih pemilu yang mengantarkan Suu Kyi terpilih dengan suara terbanyak penuh kecurangan.
news_share_descriptionsubscription_contact
