JAKARTA
Kelompok masyarakat sipil melaporkan pasukan junta telah menewaskan 897 orang sejak kudeta militer di Myanmar.
Dalam laporan Asosiasi Pendamping untuk Tahanan Politik (AAPP), Kamis dini hari, korban tewas bertambah tiga orang.
Satu korban asal Sagaing tewas pada Rabu, sementara dua korban lain dari Negara Bagian Kachin dan Sagaing terbunuh pada Selasa.
AAPP melaporkan pasukan junta menembak Aye Min di bagian kepala hingga tewas saat tentara datang ke desa tempat korban bekerja di Sagaing sebagai tukang kayu, pada Rabu pagi.
Pada 6 Juli, warga bernama Ba Gyan tewas setelah ditembak pada bagian punggung di Kota Hopin, Negara Bagian Kachin.
Saat kejadian, Ba Gyan dalam perjalanan ke rumah dari peternakan dengan mengendarai gerobak sapi, kemudian ditembak setelah dituduh tidak menghentikan gerobaknya.
Pasukan junta, kata AAPP, juga menembak warga sipil bernama Thay Thay di bagian perut hingga tewas di tempat ketika korban bersepeda bersama putranya di Kotapraja Kawlin, Sagaing, 5 Juli.
Hingga 7 Juli, AAPP mencatat 5.120 orang masih ditahan, di mana 246 orang dijatuhi hukuman.
AAPP mengungkapkan, penyair Thway Nay alias Nay Linn Htet dihukum tiga tahun penjara di bawah Pasal 505(a) Hukum Pidana.
Thway Nay ditembak dan ditangkap saat dia mengendarai pengunjuk rasa menggunakan sepeda motornya setelah pasukan junta menindak demonstrasi di Mandalay, 27 Maret silam.
Chit Min Hlaing, seorang jurnalis warga yang berbasis di Kota Pakokku, Sagaing, juga dijatuhi hukuman tiga tahun penjara atas dakwaan Pasal 505(a) Hukum Pidana.
Myanmar diguncang kudeta militer pada 1 Februari dengan menggulingkan pemerintah terpilih Aung San Suu Kyi.
Militer berdalih pemilu yang mengantarkan Suu Kyi terpilih dengan suara terbanyak penuh kecurangan.
news_share_descriptionsubscription_contact
