Hamdi Celikbas
ANKARA
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada Selasa malam mengatakan bahwa negaranya sedang ditekan untuk menghentikan operasi anti-teror di Suriah utara.
Namun Erdogan mengatakan pihaknya tak khawatir atas segala sanksi karena pemerintahnya sudah bertekad untuk memusnahkan koridor teror di dekat perbatasan Turki.
Berbicara selama perjalanan pulang dari KTT Dewan Turki ke-7 di Baku, Azerbaijan, Presiden Turki membahas berbagai topik seperti operasi anti-teror Turki yang sedang berlangsung di Suriah utara, serangan teror kelompok teror YPG/PKK ke daerah selatan Turki serta rencana pertemuan dengan pejabat AS.
"Mereka menekan kami untuk menghentikan operasi dengan mengumumkan sanksi," kata Erdogan mengisyaratkan pada negara-negara Barat.
“Tujuan kami jelas. Kami tidak khawatir dengan sanksi apa pun,” tegas Erdogan.
Presiden Turki menegaskan YPG/PKK terus mengalami kerugian selama Operasi Mata Air Perdamaian yang berjalan dengan sukses.
Erdogan menekankan bahwa AS mendesak Turki untuk mengumumkan gencatan senjata sehingga mereka dapat bertindak sebagai mediator. Namun Erdogan menolak tawaran ini, karena Turki tidak akan "duduk di satu meja dengan kelompok-kelompok teror."
Dia melanjutkan bahwa mediasi yang dilakukan AS untuk Turki dan kelompok teror YPG/PKK tidak akan masuk akal dalam politik dan hukum perang.
Erdogan menekankan bahwa Turki akan mempertahankan operasi militer sampai daerah itu dibersihkan dari unsur-unsur teror.
Wilayah itu akan dikembalikan kepada pemilik sebenarnya – rakyat Suriah - setelah operasi berakhir.
“Kami berada di hari ketujuh dalam Operasi Mata Air Perdamaian. Operasi berlanjut seperti yang direncanakan,” jelas dia.
Erdogan menggarisbawahi bahwa AS, Rusia, Uni Eropa dan NATO telah diberitahukan tentang maksud dan tujuan Turki melakukan operasi tersebut di Suriah yang mana akan mengamankan kawasan Suriah utara dari kelompok teroris.
"Tujuan kami jelas: membersihkan perbatasan kami dari setiap elemen teror dan memastikan kembalinya para pengungsi ke rumahnya dan operasi tersebut akan berlanjut hingga mencapai tujuannya," tambah dia.
Erdogan mengatakan pasukan Turki sangat berhati-hati dalam melakukan operasi tersebut sehingga mereka tidak akan membahayakan warga sipil, tidak seperti pasukan koalisi anti-Daesh dan kelompok YPG/PKK di provinsi Mosul, Raqqa dan Deir ez-Zor, di mana menyebabkan telah ribuan warga sipil tewas.
“Sayangnya, negara-negara Barat selalu mengabaikan [kerugian warga sipil] dan tidak pernah membahas hal ini. Sekarang, mereka berusaha menekan kami. Operasi kami hanya untuk melawan kelompok-kelompok teror, ”kata Erdogan.
Presiden Turki menuturkan beberapa pihak berpendapat bahwa operasi itu melawan rakyat Kurdi dan menargetkan warga sipil, membahayakan perang melawan teroris Daesh dan membuka jalan bagi destabilisasi.
Argumen tidak berdasar seperti ini sebenarnya berusaha untuk melindungi teroris YPG/PKK, ungkap Erdogan.
"Tujuan kami jelas: untuk mengeluarkan teroris dari wilayah sepanjang 32 kilometer, dan garis [operasional] ini akan diamankan oleh kami, dari Sungai Eufrat ke perbatasan Irak."
Erdogan mengatakan masuknya pasukan rezim Bashar al-Assad ke provinsi Manbij tidak benar-benar negatif baginya, karena wilayah itu jatuh ke bawah kedaulatan Suriah.
Namun dia menambahkan bahwa daerah itu harus dihilangkan dari teroris YPG/PKK dan penduduk lokal sebagian besar terdiri dari orang-orang Arab, dan beberapa suku Arab meminta Turki untuk "menyelamatkan mereka."
"Turki sekarang merupakan negara mandiri," kata Erdogan seraya menambahkan bahwa negara tersebut saat ini mampu memenuhi 70% kebutuhan militer melalui industri pertahanannya sendiri.
Mengingat ketika Turki membeli sistem rudal S-400 Rusia setelah AS menolak menjualnya sistem pertahanan Patriotnya, Erdogan mengatakan: "Tidak ada lagi keputus-asaan. Anda dapat membeli apa saja dari mana saja."
Pemimpin Turki mengatakan dia membahas nasib tahanan Daesh yang ditahan oleh YPG/PKK melalui telepon dengan Trump dan mengatakan Turki dapat mengambil tanggung jawab untuk mereka, tetapi YPG/PKK segera membebaskan tahanan Daesh.
Dia menambahkan bahwa Turki dapat memikul tanggung jawab atas teroris Daesh yang dipenjara di seluruh Suriah utara dan mungkin akan mengirim militan asing kembali ke negara mereka.
"Kelompok teror yang bertindak bersama-sama dengan AS sampai sekarang berusaha mencapai kesepakatan dengan rezim [Suriah]. Negara-negara Barat yang menyebut kelompok teror ini sekutu harus memikirkan hal ini."
"Siapa sekutu Anda yang sebenarnya?" Erdogan bertanya kepada negara-negara Barat.
"Apakah itu YPG/PKK atau Daesh? Sekarang, kita dapat bertanya tentang Daesh juga," ungkap dia ketika negara-negara Barat menutup mata terhadap pembebasan teroris Daesh oleh YPG/PKK.
Erdogan menekankan bahwa perang Turki melawan terorisme di Suriah didasarkan pada Perjanjian Adana dan semua anggota NATO harus berdiri dengan Turki sesuai dengan Pasal 5 perjanjian NATO.
Perjanjian Adana ditandatangani pada tahun 1998 dan memungkinkan pasukan Turki untuk melakukan operasi militer di Suriah.
Partai Rakyat Republik (CHP), Partai Gerakan Nasionalis (MHP) dan Partai Iyi (IP) mendukung operasi kontra terorisme terhadap YPG/PKK, kata Erdogan.
Presiden Turki menambahkan bahwa Menteri Pertahanan Hulusi Akar telah memberikan pengarahan kepada semua pihak mengenai perkembangan terbaru operasi dan berterima kasih kepada mereka atas solidaritas mereka.
Pemimpin Turki itu mengatakan Wakil Presiden AS Mike Pence dan delegasi yang menyertainya akan mengunjungi Turki untuk membahas perkembangan terbaru mengenai operasi kontraterorisme.
"Saya berharap pembicaraan besok akan menjadi pertanda baik bagi kita," kata ujar dia seraya menambahkan Turki juga berhubungan erat dengan pejabat Rusia.
news_share_descriptionsubscription_contact
