BANDUNG
Ali Hamzah Jati, 33 tahun, mengaku baru sekali seumur hidupnya mengunjungi Museum Konperensi Asia Afrika, yang lokasinya tidak jauh dari alun-alun, pusat Kota Bandung. “Sekilas saja, terus pulang,” katanya kepada Anadolu, pertengahan April 2021.
“Boring, foto-foto dengan frame. Harusnya bisa dibuat lebih menarik atau penceritaan ulang dengan animasi,” kata ilustrator lepasan yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di Bandung, ibukota Asia-Afrika.
Ali menyarankan agar pengelola museum mengikuti tren dan menggunakan cara baru dalam menyampaikan informasi terkait konten sejarah di sana. “Harus dibuat kekinian. Kenapa gak menggaet influencer dengan Tiktok?” tutur dia.
Chory, 20 tahun, mahasiswi salah satu perguruan tinggi negeri di Bandung sepakat dengan pemikiran Ali. “Aku gak tertarik sama sejarah, boring, bikin ngantuk,” ujar dia.
Dia hanya mengingat Konferensi Asia Afrika sebagai sebuah pertemuan pimpinan negara-negara Asia dan Afrika pada suatu masa di Bandung. “Tapi lupa (membicarakan) soal apa,” kata Chory.
Museum Konperensi Asia Afrika sangat strategis untuk penyebaran informasi, upaya diplomasi, serta nilai-nilai kemanusiaan yang mengemuka pada 1955.
Di balik Konferensi
Konferensi yang diikuti 29 negara dari Asia dan Afrika ini berlangsung 18-24 April 1955. Roeslan Abdulgani dalam buku The Bandung Connection yang ditulisnya memaparkan, setahun sebelumnya, kondisi dunia berada di antara tarikan kekuatan blok barat dan blok timur.
Amerika Serikat yang tidak puas dengan hasil Konperensi Jenewa pada 1954 segera mengorganisasi South East Asian Treaty Organization atau SEATO. Roeslan menyebutnya sebagai dampak dari mundurnya Perancis dari Indocina malah digantikan Amerika Serikat, salah satu protagonis Perang Dingin.
“Jelas, Perang Dingin merembes dan meluas ke daerah Asia Tenggara!” begitu tulis Roeslan.
Dalam masa itu, Roeslan menambahkan, perjuangan kemerdekaan nasional di Aljazair, Tunisia, Maroko, Afrika Tengah, Palestina dan tempat-tempat lainnya mulai terlihat. Pada sisi lain, Uni Soviet memperlihatkan sikap tegasnya melawan blok Amerika Serikat.
“Malahan ada tanda-tanda meningkat,” tambah Roeslan yang terinspirasi dari film “The French Connection” saat menuliskan judul bukunya.
Gagasan menggelar pertemuan antara negara-negara di Asia dan Afrika itu mengemuka saat Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo memenuhi undangan Perdana Menteri Srilanka, Sir John Kotelawala.
Sidang yang dikenal dengan Konferensi Kolombo ini juga mengundang perdana menteri Burma, India, dan Pakistan.
“Sidang ini diprakarsai Sir John Kotelawala, didorong oleh kekhawatiran dan keprihatinan mengenai situasi peperangan Indocina waktu itu. Meningkatnya agresi komunis di bumi Asia dan mengenai perkembangan persenjataan nuklir,” tulis Roeslan yang saat itu menjabat Sekretaris Jenderal Departemen Luar Negeri.
Pada hari terakhir pertemuan Kolombo, Ali mengajukan usulan perlunya konferensi serupa dengan melibatkan negara-negara Afrika.
Mendapati pandangan yang skeptis dan pesimistis, Roeslan menulis, Ali menegaskan tidak akan melepaskan usulannya.
“Saya akan merasa puas apabila Konferensi Kolombo dapat menyetujui bahwa Indonesia akan mensponsori sendiri Konferensi Asia Afrika,” kata Roeslan mengutip pandangan Ali saat itu.
Setelah Ali menyatakan pandangannya, empat perdana menteri lain mengangguk-angguk dan mencantumkan usulan itu dalam Komunike Konferensi Kolombo.
Wacana itu bergulir hingga terwujud Konferensi Bogor pada 28-30 Desember 1954 di Istana Bogor. Pertemuan itu menyepakati tujuan dan maksud, sponsor, waktu penyelenggaraan, hingga negara-negara yang diundang ke Konferensi Asia Afrika.
“Konferensi Bogor juga menentukan Pemerintah Indonesia akan membentuk sebuah Sekretariat Bersama , di mana para wakil dari empat negara sponsor lainnya akan ikut serta. Saya ditunjuk jadi kepala sekretariat,” terang Roeslan seraya menambahkan Bandung yang ditetapkan jadi lokasi penyelenggaraannya.
Periode Januari-Maret 1955, ungkap Roeslan, merupakan masa yang sibuk, menekan, mendesak, tegang, mencekam, dan berat. Dia hanya punya waktu tiga bulan mempersiapkan Konferensi Asia Afrika.
Pelaku sejarah
Kesibukan itu terasa juga di Bandung. Salah satu relawan Konferensi Asia Afrika, Abah Landoeng, 91 tahun masih ingat masa-masa itu.
Guru sukarela ini mendapat tugas untuk mencari mobil bagi para delegasi konferensi di Bandung. Pria yang masih berusia 29 tahun itu kerap berkeliling memakai sepeda dan memiliki pergaulan luas, termasuk dengan keluarga Suwarma, pemilik dealer Mercedez Benz serta keluarga Sada yang mengurus hotel di Bandung.
Gubernur Jawa Barat, Sanusi Hardjadinata memberi tugas kepada ketiganya guna mengurus akomodasi para delegasi selama di Bandung. “Pak Suwarma noel (menyentuh) saya, mobil sudah ada, tinggal mencari mobil antik sesuai keinginan Bung Karno,” kata Landoeng saat acara Museum Konperensi Asia Afrika Menyapa, Maret 2021 lalu.
“Saya keliling dari Februari sampai April hanya dapat kurang lebih 28 mobil, ditambah mobil Bung Karno diberi nomor Indonesia 1,” tutur Landoeng lagi.
Namun kebutuhan itu akhirnya terpenuhi juga karena Landoeng bisa mendapatkan tambahan mobil lagi dari masyarakat. “Ada keluarga Pak Asep Berlian, Pak Hasan Sadikin, semua memberikan pinjaman. Mangga we pak guru, nanti diantarkan, ditaruh ke belakang gedung dan Jalan Bungsu,” kenang Landoeng yang mengaku tidak memikirkan materi dari hasil kerjanya itu.
Hal senada disampaikan Inen Rusnan, 83 tahun yang saat itu bekerja sebagai asisten foto di James Photo Press.
Pria yang baru berusia 17 tahun itu dipercaya untuk membuat foto dokumentasi Konferensi Asia Afrika. “Maksudnya supaya bisa bantu koran yang di Bandung maupun luar Bandung juga, supaya foto hasil Pak Inen bisa ditayangkan di koran,” tutur Inen yang juga hadir di acara bersama Landoeng.
Setiap hari, kenang Inen, dia membawa setidaknya 20 roll film. “Kalau acara besar, jangan sampai kekurangan,” kata Inen.
Beberapa hasil karyanya masih bisa diapresiasi di museum. Inen juga ingat tidak sedikit anggota delegasi yang mengambil foto-foto cetakannya sebagai buah tangan ke negaranya masing-masing. “Ada yang mau bayar, yang tidak bayar, ya tidak apa,” imbuh Inen.
Tantangan mewariskan
Kepala Museum Konperensi Asia Afrika, Dahlia Kusuma Dewi berharap keberadaan museum yang tidak memungut biaya pada pengunjung ini bisa jadi center of excellence terkait sejarah perjuangan dan kebangkitan bangsa-bangsa di Asia dan Afrika.
“Kita harap mereka ada kesan baik terhadap museum ini. Melestarikan nilai yang terkandung dalam museum, harus jadi center of excellence, pusat kajian, pusat benchmarking, penelitian dan sebagainya, pusat pendidikan soal nilai Konferensi Asia Afrika,” kata Lia, begitu dia biasa disapa.
Setiap tahunnya museum ini mendapatkan kunjungan dari setidaknya 200 ribu orang. “Tahun lalu sekitar 156 ribu, itu sudah kombinasi pengunjung fisik dan daring,” kata Lia memaparkan ketentuan tidak boleh adanya kunjungan fisik kecuali melalui perjanjian lebih dulu seperti peraturan Pemerintah Kota Bandung guna mencegah penyebaran Covid-19.
Pengelola juga beradaptasi dengan menyediakan layanan tur secara daring semasa pandemi. Pengunjung bisa mendaftar lewat fitur reservasimkaa di portal Kementerian Luar Negeri.
Layanan tur tersedia dalam bahasa Indonesia setiap Selasa dan Kamis dengan empat pilihan waktu. Sementara layanan bahasa Inggris tersedia setiap Rabu dengan dua pilihan waktu.
“Bisa sekali tur via zoom itu lima orang,” terang Lia yang merencanakan ada penerbitan buku braille dan audio book The Bandung Connection agar informasi sejarah dan perjalanan diplomasi Indonesia bisa diakses oleh semua orang.
Selama 10 bulan terakhir, pengelola juga menggelar Instagram Live setiap hari Jumat bersama para edukatornya.
Jelang peringatan ke-40 tahun berdirinya museum, pengelola menggelar IG Live sejak 18-24 April 2021. Tayangan itu bisa diikuti meski terlewat via IG TV di akun asiafricamuseum.
Pada edisi Ngobrol Bareng Edukator Museum KAA #40, Desmond S. Andrian bersama Wisnu Azi Firdaus membahas pidato para ketua delegasi Konferensi Asia Afrika 1955.
Keduanya menyoroti delapan kutipan pidato yang dibahas dari koleksi khusus museum, Collective Document of the Asian African Conference 1955.
Salah satunya adalah pidato Wakil Perdana Menteri Turki, Fatin Rustu Zorlu.
Desmond memaparkan, Fatin mengemukakan pentingnya merawat kemerdekaan.
Dalam pidatonya, dia meminta peserta konferensi memahami keputusan negara-negara yang sebelum konferensi itu sudah memutuskan bergabung dengan traktat militer ketaatan seperti SEATO.
“Self defence itu jalan mereka buat mencapai kedaulatan nasional dari agresi komunis internasional,” ujar Desmond menyarikan pidato Fatin.
Pidato lainnya yang membuat gerah suasana konferensi, sambung Desmond, disampaikan Ketua Delegasi Irak, Mohammed Fadhil Jamali.
“Tidak ada bedanya antara zionisme, kolonialisme, komunisme. Semua sama karakternya, memaksakan kehendak. Zionisme di Palestina, kolonialisme di Asia Afrika, komunisme di Eropa Tengah dan Timur, yang menyebabkan negara-negara di sana tidak bisa melihat matahari karena tertutup oleh komunisme Soviet. Gerah itu satu ruangan,” kata Desmond merujuk pada delegasi Republik Rakyat Cina yang dipimpin Zhou Enlai.
Menariknya, kata Desmond, Perdana Menteri Cina itu meresponnya dengan tenang saat menyampaikan pidato.
“Delegasi Tiongkok datang dengan tujuan mencari persatuan, bukan untuk mencari perselisihan. Tidak ada gunanya menyodorkan ideologi atau perbedaan di antara kita. Kita datang kemari untuk menemukan persamaan pandangan,” begitu kata Desmond mengutip Zhou.
Desmond memaparkan, rata-rata pidato ketua delegasi itu berdurasi 10-15 menit.
Bandingkan dengan pidato Presiden Sukarno saat pembukaan konferensi yang berdurasi 50 menit.
“Dari sana kita bisa melihat warisan intelektual Konferensi Asia Afrika, mereka-mereka yang hadir ini kaliber dunia. Masih banyak yang lainnya, makanya datang ke museum,” tutur Desmond.
news_share_descriptionsubscription_contact


