Nicky Aulia Widadio
23 Februari 2021•Update: 23 Februari 2021
JAKARTA
Jumlah titik panas yang merupakan indikasi awal kebakaran hutan dan lahan telah meningkat di pesisir timur Riau selama sepekan terakhir.
Pemerintah Provinsi Riau telah menerbitkan status siaga darurat karhutla yang berlaku hingga Oktober 2021.
Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat setidaknya ada 50 titik panas yang tersebar di Kabupaten Bengkalis, Kepulauan Meranti, Kota Dumai, Kabupaten Pelalawan, Siak, dan Rokan Hilir.
Sedangkan pada pekan lalu, hanya ada sembilan titik panas yang terpantau oleh satelit.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau Edward Sanger menuturkan jumlah titik panas meningkat setelah hujan tidak turun selama sepekan di pesisir timur Riau.
“Kami sedang koordinasikan apakah masih berupa titik panas atau sudah titik api. Memang beberapa area ada yang sedang pendinginan setelah dipadamkan,” kata Edward kepada Anadolu Agency, Selasa.
Dia mengklaim situasi karhutla di Riau masih terkendali dan masih berskala kecil.
Satuan Tugas Karhutla Riau telah bersiaga untuk menangani titik api sejak awal terdeteksi sebelum situasi memburuk.
“Makanya status siaga darurat kami tetapkan sejak awal, bukan berarti situasinya sudah sangat buruk, tapi untuk mempercepat langkah pencegahan,” kata dia.
Presiden Joko Widodo sebelumnya telah mengingatkan seluruh pemerintah daerah untuk tidak lengah dan mencegah potensi karhutla.
Potensi karhutla telah muncul di Pulau Sumatra pada Februari ini, meski sebagian besar wilayah Indonesia masih dilanda musim hujan.
“Sebagian Kalimantan dan Sulawesi juga sudah mulai terbakar, waspadai puncaknya mulai bulan Agustus dan September,” kata Jokowi, sapaan akrab presiden, dalam rapat koordinasi nasional pada Senin.
Pada 2020, Indonesia mencatat 296.942 hektare hutan dan lahan terbakar.
Jumlah ini menurun dibandingkan 2019, dimana lebih dari 1,6 juta hektare hutan dan lahan terbakar.