İqbal Musyaffa
05 September 2019•Update: 06 September 2019
JAKARTA
Meski perekonomian Turki sedang memasuki resesi dengan pertumbuhan negatif lebih dari dua triwulan, namun Indonesia tetap menganggap negara tersebut sebagai mitra dagang potensial dalam upaya meningkatkan kerja sama perdagangan non-tradisional.
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan saat ini Indonesia sedang dalam proses perundingan comprehensive economic partnership agreement (CEPA) dengan negeri dua benua tersebut meskipun perundingan masih terhenti selama sembilan bulan.
"Selama dua triwulan berturut-turut Turki mengalami minus pertumbuhan ekonomi sehingga masuk kategori resesi, tetapi kita tidak hentikan perundingan dan tetap jalan. Semua kita siapkan," ujar Menteri Enggartiasto dalam keterangan resmi, Kamis.
Dia mengatakan secara geografis Turki berada di lokasi yang strategis dan potensial untuk produk-produk Indonesia bisa masuk ke pasar Eropa dan Asia Barat.
Begitu pula sebaliknya, Turki juga bisa menjadikan Indonesia sebagai basis untuk memasuki pasar ASEAN.
Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, sepanjang 2018 total perdagangan Indonesia dan Turki tercatat sebesar USD1,79 miliar atau tumbuh dari tahun 2017 yang sebesar USD1,7 miliar.
Dari jumlah tersebut, Indonesia masih mencatatkan surplus perdagangan USD634,9 juta yang berasal dari nilai ekspor USD1,18 miliar dan impor USD611,5 juta.