18 September 2017•Update: 19 September 2017
ISTANBUL
Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) Turki Numan Kurtulmus menjawab pertanyaan wartawan Hakan Celik tentang program terbaru Kementerian Budpar, “Weekend”.
“Dibandingkan 6 bulan pertama di tahun 2017, wisatawan Rusia meningkat 570 persen”
Numan Kurtulmus mengatakan, “Tidak peduli berapa banyak propaganda negatif yang dibuat, atau materi untuk politik dalam negeri Jerman, banyak [masyarakat Jerman] yang pernah datang ke Turki atau mendengar tentang Turki dari teman yang pernah datang kesini. Bahkan banyak orang yang menghabiskan sebagian masa pensiun mereka di Turki. Karena itu, banyak orang tahu Turki. Isu-isu negatif tentang Turki tidak berpengaruh banyak”.
Saat ditanyakan apakah ada penurunan yang signifikan dalam jumlah wisatawan yang berasal dari wilayah Barat, Kurtulmuş mengatakan, "Tahun lalu memang ada penurunan, tapi tahun ini lebih baik, misalnya, tingkat kedatangan turis Rusia meningkat 570 persen dibandingkan enam bulan pertama, tahun lalu memang ada penurunan drastis”.
“Kita harus meningkatkan variasi produk”
Menjelaskan tentang target jumlah wisatawan yang datang ke Turki sampai akhir tahun, Kurtulmus mengatakan:
"Kami menargetkan lebih dari 30 juta wisatawan tahun ini, dan di 2023 target kami 50 juta wisatawan dengan target pendapatan dari sektor pariwisata sebesar 50 miliar USD. Secara strategis, kami memiliki dua target, yang pertama diversifikasi pasar. Selain orang-orang Rusia, Inggris, dan Jerman, kami menyadari harus menarik perhatian masyarakat India, Tiongkok, dan Jepang. Kedua, yang lebih penting adalah diversifikasi produk. Turki tidak hanya memiliki pantai, pasir, dan matahari. Turki adalah negara yang bisa menghasilkan produk baru yang tidak ada di negara lain, contohnya wisata pegunungan, wisata olahraga, wisata kesehatan, dan wisata rohani.
Selain itu juga bisa dilakukan kerja sama membuat paket wisata dengan negara-negara lain. Kami sudah berbicara dengan Menteri Pariwisata Indonesia. Indonesia adalah Negara dengan populasi muslim terbesar di dunia. Jutaan orang Indonesia pergi haji dan umrah setiap tahunnya. Bisa saja masyarakat Indonesia pergi melalui Turki, tinggal di sini selama beberapa malam, mengunjungi masjid, mengunjungi dan melihat karya-karya penting dalam wisata Islam, dan jika bisa, menginap di Kudus beberapa malam.
Kita harus melakukan diversifikasi produk baru, dan membuka diri ke berbagai wilayah di dunia”.