Maria Elisa Hospita
31 Oktober 2017•Update: 31 Oktober 2017
Emin Avundukluoglu
ANKARA
Uni Eropa melanggar janjinya untuk membantu Turki dalam penanganan krisis pengungsi.
Anggota parlemen senior dari Partai Pembangunan dan Keadilan (AK) Salim Uslu, pada Senin mengatakan, kesepakatan pengungsi Turki-Uni Eropa pada Maret 2016 bertujuan untuk mencegah migrasi tidak teratur ke Eropa melalui Laut Aegea.
Kesepakatan tersebut termasuk penyaluran bantuan senilai EUR 6 miliar (USD 6,8 miliar) untuk penanganan jutaan pengungsi yang ditampung oleh Turki.
Uni Eropa berjanji untuk mengalokasikan EUR 3 miliar (USD 3,5 miliar) dalam tahap pertama proyek bantuan pengungsi Suriah. Namun, pada kenyataannya, UE tidak menepati janjinya.
"Sayangnya, kita sudah berada di penghujung tahun 2017, namun mereka hanya menyalurkan dana EUR 800 juta [USD 930 juta] hingga saat ini. Mereka tidak menepati janji mereka," ujar Uslu.
- Penderitaan pengungsi di Eropa
Uslu mengatakan bahwa Turki telah membantu mengurangi beban Eropa dengan sebaik-baiknya, namun UE justru mengkritik bahkan menuding Turki telah melakukan pelanggaran hak asasi manusia.
"Jika Anda menyebut pelanggaran HAM, Anda seharusnya melihat penderitaan pengungsi di Eropa. Pengungsi di Yunani menderita kedinginan. Mereka menunggu di balik kabel berduri di Makedonia," tegas Uslu.
Uslu juga membahas bagaimana otoritas Hungaria menggunakan kawanan anjing untuk mengusir pengungsi.
"Jerman telah menyita barang-barang berharga milik pengungsi dan memberlakukan segala upaya untuk mencegah mereka masuk ke negara mereka. Hingga saat ini, lebih dari 6.000 pengungsi anak-anak di Jerman dilaporkan hilang," tambah dia.
Turki menampung pengungsi Suriah lebih banyak dari negara lainnya di dunia.
Ankara telah menghabiskan lebih dari EUR 20 miliar (USD 24,1 miliar) dari sumber dananya sendiri untuk membantu dan menampung pengungsi sejak perang saudara Suriah meletus.