Megiza Asmail
JAKARTA
Kemeriahan dan antusias masyarakat dengan perhelatan Asian Games ke-18 yang digelar sejak 18 Agustus lalu dan berakhir hari ini memang mendapat perhatian besar dari banyak pihak.
Selain tentang megahnya pesta pembukaan, peraihan medali emas oleh atlet-atlet Indonesia dari cabang olahraga yang tidak diduga - pun ditargetkan - juga mendapat sorotan masyarakat.
Dilihat dari luar, gelaran Asian Games 2018 terbilang berhasil membuat pemerintah dan juga penyelenggara mendulang pujian. Perbaikan fasilitas olahraga hingga sarana umum juga tak dapat dipungkiri dinikmati masyarakat.
Namun, keberhasilan-keberhasilan itu tak terlalu dirasakan oleh sebagian jurnalis yang menghabiskan waktu belasan jam setiap harinya di kompleks GBK. Masalah keamanan ternyata menjadi bahan pembicaraan bagi para jurnalis asing.
Untuk catatan kehilangan alat kerja wartawan, pihak penyelenggara mencatat ada dua aduan dari jurnalis asing. Properti mereka yang hilang adalah komputer jinjing dan juga lensa kamera.
Banyak jurnalis asing yang menyayangkan insiden tersebut. Seperti yang diungkapkan oleh salah satu fotografer dari kantor berita Prancis yang enggan disebutkan namanya.
Dalam obrolannya dengan Anadolu Agency, fotografer tersebut bercerita bahwa kejadian itu membuat sebagian wartawan asing mempertanyakan keamanan yang dijamin oleh pihak penyelenggara.
“Saya berbicara dengan teman-teman dari Jepang. Mereka cerita, ketika ingin melihat langsung rekaman CCTV, pihak panitia tidak berani langsung menunjukkan. Kalau memang mereka punya rekamannya, harusnya langsung saja diputarkan rekamannya. Saya jadi tidak yakin kalau CCTV di sini berfungsi semua,” kata dia.
Selain soal keamanan di area Main Press Center (MPC), jurnalis foto yang telah meliput empat gelaran Asian Games itu mengkritisi keamanan di kompleks GBK, khususnya di Gate 9 yang menjadi akses terdekat menuju MPC.
Dia pun membandingkan dengan pengalamannya saat meliput Asian Games terakhir di Incheon, Korea Selatan. Jurnalis foto senior itu mengatakan pengamanan di sana jauh berlapis-lapis dibandingkan di Indonesia.
“Kalau dibandingin sama yang di Korea, keamanan di sini sangat-sangat kurang. Kalau di Korea, dari gate masuk saja pemeriksaannya sudah seperti di bandara. Yang jaga bukan hanya polisi atau petugas keamanan dalam, tapi militer pun diterjunkan,” tutur dia.
Terlebih, kata dia, dengan nama Indonesia yang dikenal dengan beberapa kasus aksi terorisme, sudah seharusnya pengamanan ekstra ketat dibuat oleh kepolisian Indonesia.
“Bukan tidak mungkin ada orang masuk ke MPC, yang kemudian membawa tas besar, tapi tak melalui pemeriksaan yang ketat dan ternyata tas itu isinya bom. Itu tentu membuat pekerjaan tambahan buat wartawan yang meliput di sini. Itupun kalau kami tidak ikut tewas,” ujar dia tertawa.
Jurnalis foto tersebut menuturkan, keamanan yang terbilang ‘santai’ itu sempat membuatnya tergelitik untuk melakukan percobaan. Dia mengaku pernah masuk melalui salah satu gerbang tanpa mengenakan kartu pengenal khusus wartawan yang dikeluarkan oleh penyelenggara.
“Saya pernah iseng masuk gate tanpa pakai ID, meski ID saat itu saya kantongi. Mereka yang berjaga di depan tidak menanyakan ID saya dan enggak memeriksa. Mereka hanya tersenyum saja. Apa mungkin karena saya kulit putih? Karena mungkin teroris di Indonesia kan enggak identik dengan kulit putih,” cerita dia.
“Kalau di Korea, mau Anda kulit putih, kuning, hijau, merah, Anda pasti harus melewati pemeriksaan yang sangat ketat.”
Untuk dapat masuk ke dalam MPC, jurnalis harus melewati loket yang meminta mereka untuk meng-scan ID card. Dari pantauan Anadolu Agency, petugas keamanan di depan gate MPC enggan menanyakan lebih lanjut ketika mesin scan tidak sukses mengidentifikasi kartu tersebut.
Tidak hanya itu, jalur yang telah ditandai khusus sebagai jalur wartawan pun terlihat dilintasi oleh pengunjung umum yang ingin mencari jalan keluar terdekat.
“Di Korea atau di negara-negara sebelumnya, area MPC tidak bisa dilintasi oleh pengunjung umum. Bahkan wartawan harus masuk dengan antre dan men-tap kartu. Di sini Saya lihat meski seseorang tak berhasil saat men-tap kartu, mereka masih dibiarkan masuk,” tutur dia.
Berbeda dengan jurnalis foto kantor berita Prancis tersebut, jurnalis dari kantor berita China XinHua, Cao Yang, mengaku merasa tidak ada masalah dengan penjagaan yang dilakukan oleh kepolisian Indonesia.
Yang menyebut,dia tidak menemukan kendala selama menjalankan tugas peliputan selama dua pekan ini.
“Sebelum saya datang ke sini, Saya sempat berpikir kalau Indonesia negara yang tidak aman. Ada perasaan khawatir. Tetapi setibanya di sini saya merasa aman saja dan nyaman,” kata Yang.
Ditanya tentang insiden kehilangan properti yang terjadi di MPC, Yang mengaku tidak mendengar kabar tersebut. Karenanya dia merasa, tak ada masalah keamanan yang berarti selama dia di Indonesia.
“Tidak ada, tidak ada kritik kepada penyelenggara. Sampai soal makanan pun saya suka, karena makanannya tidak jauh berbeda dengan makanan di negara saya,” sebut Yang.