Nasional

Piara reptil buas, dari kasihan jadi kesayangan

Tidak sedikit tenaga dan materi yang diluangkan untuk para pecinta reptil memberikan kenyamanan untuk peliharaan mereka

Megiza Soeharto Asmail  | 05.02.2018 - Update : 06.02.2018
Piara reptil buas, dari kasihan jadi kesayangan Irwan memandikan buaya di rumahnya di Bogor, Indonesia, 22 Januari 2018. Irwan menemukan buaya tersebut 20 tahun lalu sejak masih bayi lantas memeliharanya hingga kini. (Eko Siswono Toyudho - Anadolu Agency)

Jakarta Raya

Megiza Asmail

JAKARTA 

“Kasihan”, begitu kata Muhammad Irwan, 41, ketika ditanya alasan dia pertama kali memutuskan untuk memelihara seekor reptil dengan nama latin Crocodylidae pada 21 tahun silam.

Ojek, nama buaya itu, membuat Irwan iba saat ia nyaris dipanggang oleh anak-anak di pesisir pantai Pangandaran kala itu. Berukuran tidak lebih dari 30 sentimeter saat diselamatkan, kini Ojek sudah bertumbuh besar, nyaris tiga meter.

Irwan bercerita, dia menyelamatkan Ojek dari ‘santapan iseng’ karena anak-anak pantai mengira buaya kecil itu adalah biawak. Di Indonesia, daging biawak memang banyak ditawarkan di restoran-restoran ‘ekstrem’.

Usai menukar Ojek dengan uang Rp 30ribu kepada anak-anak pantai itu, Irwan pun kemudian memasukkan Ojek kecil ke dalam jaketnya dan membawa buaya mungil itu ke hotel tempat dia menginap.

Dengan sebuah boks kardus, Ojek berpindah rumah dari pesisir pantai Pangandaran ke sebuah aquarium di Bogor. Sebuah habitat baru diciptakan Irwan demi buaya kecil itu. Anak ikan mas dipilihnya sebagai makanan Ojek sehari-hari.

Seiring tahun berganti, badan Ojek pun kian besar. Tiga kali sudah Irwan mengganti rumah buaya kesayangannya itu. Mulai dari ukuran 0,5 meter, 1,5 meter, hingga 2 meter dibuatnya demi memberi kenyamanan Ojek.

“Tapi dia enggak mau diam, dan badannya terjedot-jedot kaca. Akhirnya waktu dia sekitar umur empat tahunan saya lepaskan dia. Tidur satu kamar sama saya. Dia di kolong tempat tidur,” kata Irwan saat berbicara dengan Anadolu Agency.

Namun, seiring bertambahnya waktu, Irwan pun sadar tak dapat hidup satu kamar dengan Ojek. Pasalnya, hanya beberapa bulan setelahnya, feses buaya peliharaannya itu membuat dia tak nyaman berada di dalam kamar.

“Setelah di kamar berapa bulan, saya keluarkan dia di teras. Saya buatkan tempat berendam khusus, panjang tiga meter. Dulu, waktu awal dipindahkan dia masih leluasa. Tapi sekarang semakin nge-pas. Paling sekarang hanya sisa tiga sentimeter dari badannya,” ungkap dia.

Dengan waktu, tenaga dan materi yang sudah diberikannya untuk Ojek selama lebih dari dua dekade, Irwan pun tak malu menyebut buaya bertubuh besar itu sebagai anaknya. Terlebih, Ojek sudah sangat hafal dengan suara Irwan.

“Lagipula, si Ojek sudah kenal dengan semua keluarga saya. Kalau kami sedang mengobrol di teras, dia naik [keluar kolam] pengen ikut ngerumpi sambil minta dielus-elus,” tawa Irwan.

Hidup bersama selama puluhan tahun, kata Irwan, memang membuat Ojek menjadi buaya jinak. Seingatnya, hanya satu kali buaya kesayangannya itu merasa terganggu dan menyundulkan kepalanya ke salah satu tamunya.

Berhasil memelihara reptil yang dikenal buas memang bukan sesuatu yang direncanakan oleh Irwan. Rasa iba yang membuat dia akhirnya memungut Ojek sebagai ‘anak’ juga tak pernah dibayangkan dia sebelumnya.

Sama juga seperti cerita Steven Prasetyo, 27, warga Jakarta yang membesarkan ular jenis Python. Pria yang akrab disapa Pras itu mengaku merawat ular-ular miliknya dengan penuh rasa sayang sejak mereka kecil, bahkan sejak masih di dalam cangkang telur.

Hitler, nama ular sanca batik terbesar milik Pras, pertama kali dipeliharanya saat ia masih di dalam telur. Enam tahun lalu tepatnya ketika seorang temannya mengaku menemukan sepuluh telur-telur liar di Purwokerto dan membawanya ke Jakarta.

Persis seperti Irwan dengan buaya kesayangannya, Pras pun membesarkan ular-ular itu dengan penuh kasih. Dia berkali-kali membuat kandang berbagai macam ukuran agar peliharaannya merasa nyaman.

“Yang paling besar sekarang ada di kandang 1,5x1,5 meter. Kandang ditaruh di teras. Kalau musim hujan seperti sekarang ini saya selipkan lampu biar hangat,” cerita Pras saat berbincang dengan Anadolu Agency.

Bicara soal memberikan asupan, Pras mengatakan, enam ekor ular jenis Phyton Reticulated di rumahnya itu menyantap ayam dan tikus afkir.

Meski dikenal mengerikan, Pras menyebut ular-ular yang tinggal di rumahnya tidak mengancam keselamatan dirinya ataupun keluarganya. Alasannya, enam ekor ular python kesayangannya itu tidak berkarakter mengeluarkan bisa untuk pertahanan hidup mereka.

“Saya pelihara khusus Python karena mereka tidak berbisa, tapi bertahan hidup dengan melilit kalau mereka merasa terancam,” kata Pras.

Dari perkara mistis sampai jadi idola komunitas

Sosok buaya dan ular yang memiliki karakter buas memang bisa dibilang sudah takluk di tangan Irwan dan Pras. Sifat mereka yang sudah jinak, membuat banyak orang penasaran ingin bertemu dengan Ojek ataupun Hitler.

Jika Irwan mengaku banyak komunitas-komunitas pecinta reptil yang singgah ke rumahnya demi berfoto bersama Ojek, Pras lebih memilih mengajak Hitler ‘bersosialisasi’ di komunitas DeRic alias Depok Reptile Amphibi Community.

Meski banyak orang yang mengagumi sifat ramah keduanya, ternyata banyak juga masyarakat yang melekatkan Ojek dan Hitler dengan hal-hal mistik.

Pras bercerita, tak sedikit orang yang menyebut memelihara ular sama dengan membesarkan setan atau roh jahat. Tak jarang dia pun ditanyai tentang doa-doa yang dapat dibaca untuk menaklukkan ular-ular peliharaannya.

“Ular itu juga ciptaan Tuhan, kalau mereka tidak jahat kenapa harus dimatikan?” tutur Pras. “Banyak orang yang datang, tanya bacaannya apa, pakai ilmu apa, saya bilang ‘baca saja bismillah’,” imbuh dia.

Tak berbeda dengan Pras, Irwan juga mengaku banyak orang mengaitkan peliharaannya dengan hal gaib. Dia sempat kedatangan beberapa orang yang ingin berbicara dengan Ojek dan meminta petunjuk untuk masalah yang sedang mereka hadapi.

Irwan bercerita, mereka yang datang ke rumahnya punya alasan yang ‘ajaib’. Mulai dari minta petunjuk agar sukses di pekerjaan, hingga perkara jodoh.

“Saya bilang saya enggak percaya. Tapi orang itu tetap yakin untuk minta petunjuk ke Ojek buat cariin jodoh anaknya. Terus dia kasih uang buat anak saya, kasih ikan juga buat Ojek. Beberapa minggu kemudian, mereka mengundang saya, katanya anaknya mau nikah,” tutur Irwan tertawa.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.