“Seperti kesamber petir,” kekeh Istiani, 36 tahun, ketika ditanya reaksinya mengetahui dia mengidap HIV pada 2006 silam. “Penyakit itu kayak bom waktu, saya mikirnya tinggal menunggu mati saja.”
Hal yang sama diungkapkan oleh Yuswati, 33 tahun, yang divonis HIV positif pada 2004 namun enggan meminum obat-obatan yang bisa mengurangi dampak virus itu terhadap dirinya.
“Saya benci saja, awalnya tidak mau sama sekali minum obat itu. Mau ke puskesmas atau klinik pun malu,” kata Yuswati.
Walaupun sejak 2013 lalu penanganan dan pengobatan HIV/AIDS menjadi agenda prioritas utama, dengan kemudahan akses untuk pengecekan, konsultasi dan pengobatan bagi semua, tetap saja HIV/AIDS dilihat sebagai “hukuman mati”.
Padahal, menurut Dr. Zinnita Mutalib di Puskesmas Senen, bila terdeteksi dini dan minum obat antiretroviral secara teratur, virus HIV itu bisa hilang dari tubuh pasien.
“Obat itu memang untuk seumur hidup, tapi kalau rajin minumnya, dilihat dari tes darah pun hitungan beban virusnya hampir nol. Memang tantangannya pasien sering jenuh karena itu harus benar-benar disiplin, setiap hari di jam yang sama,” jelas Dr. Zinnita ke Anadolu Agency.
Klinik yang ditempati Dr. Zinnita agak terpencil di bagian belakang puskesmas. Itu memberikan privasi yang sering dibutuhkan pasien ODHA (orang dengan HIV/AIDS), agar mereka leluasa bertemu dan berkonsultasi dengan dokter dan relawan-relawan dari berbagai komunitas. Sekitar 270 pasien HIV/AIDS.terdaftar di klinik itu, dengan berbagai tingkat keseriusan penyakit.
Orang yang datang pun macam-macam, mulai dari ibu rumah tangga, pekerja seks, mantan pengguna narkoba hingga LGBTQ. Di Indonesia, kelompok yang rentan terjangkit HIV memang sesuai demografi itu – hingga 28,7 persen ODHA adalah pengguna narkoba suntik, 25,8 persen adalah pria homoseksual, dan 24,8 persen merupakan transgender.
- Pengobatan HIV/AIDS gratis
Di berbagai puskesmas di Indonesia, layanan HIV/AIDS digratiskan atau dipungut biaya yang minimal saja. Layanan itu tidak terikat program BPJS, sehingga bisa diakses juga bagi mereka yang belum mendaftar program pemerintah itu.
Selain tes darah dan pengobatan, pasien juga mengikuti konseling karena sensitifnya penyakit ini, hingga “pasien pun bisa syok mendengar dirinya positif HIV”.
“Konseling itu kami berikan sebelum melakukan tes darah, untuk mengetahui tingkat resiko infeksi dan perilaku pasien selama ini. Dari situ, kami juga sudah bisa mengira hasil yang ditunjukkan tes darah dan bagaimana menyampaikan kabar itu ke pasien,” kata Dr. Zinnita.
Menurut data UNAIDS, pada 2016 Indonesia mencatat adanya 48.000 kasus HIV baru dan 38.000 pasien yang tewas karena AIDS.Tapi dari seluruh populasi yang HIV positif, hanya 13 persen saja yang mengakses terapi antiretrovirus.
Salah satu rintangan yang dihadapi pasien ODHA yang mencegah mereka mengakses bantuan dan penyembuhan adalah reaksi orang-orang di sekeliling mereka dan masyarakat.
- Stigma terhadap ODHA
Dengan segala kemajuan di bidang kedokteran, penyakit HIV/AIDS itu bukan vonis mati dan sangat bisa disembuhkan. Yang lebih sulit disembuhkan adalah stigma dan diskriminasi yang hingga kini masih dihadapi ODHA.
“Banyak lah yang masih segan, bahkan ada yang takut, salaman aja tidak mau,” curhat Istiani. Kasarnya, kata Istiani yang terjangkit HIV dari pasangannya, dia juga tidak minta diberikan penyakit ini tapi merasa bagai ‘dihukum’ secara sosial ketika orang mengetahui statusnya.
Itu disebabkan banyaknya informasi simpang siur mengenai HIV dan penularannya, hingga masih ada juga yang mengira hanya mengobrol dengan ODHA bisa menularkan virus itu pada mereka.
Menurut aktivis Baby Jim Aditya, stigma yang dialami ODHA berakar dari ketidakmampuan dan ketidakmauan orang banyak untuk mencoba memahami penularan HIV.
“Kita tidak perlu takut berlebihan untuk tertular. Justru mereka yangg terinfeksi butuh dukungan psikologis, fisik, ekonomi dan sosial serta spiritual. Kita yang "lebih sehat", hendaknya membantu mereka yang sedang berjuang menghadapi virus di tubuh mereka,” kata Baby kepada Anadolu Agency.
Di tengah kabar peningkatan kasus HIV di Indonesia, sebuah pencapaian kecil bagi kita adalah pemerosotan sebesar 22 persen sejak 2010 dalam jumlah kematian yang disebabkan HIV/AIDS.
Oleh karena itu, UNAIDS mengatakan Indonesia dan sejumlah negara-negara lain berada dalam jalur cepat atau fast track untuk memutus epidemic AIDS sebelum 2030, sejalan dengan komitmen Indonesia untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB.