Shenny Fierdha
12 Oktober 2017•Update: 12 Oktober 2017
Shenny Fierdha
JAKARTA
Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Polri) Jenderal Tito Karnavian pada Kamis berpesan kepada anggota Polri untuk tidak terpancing polemik senjata yang belakangan ramai diberitakan.
"Polemik ini tidak perlu berlanjut. Jangan sampai hubungan Polri dengan Tentara Nasional Indonesia [TNI] menjadi korban," kata Tito dalam rapat kerja antara Polri dengan Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) yang digelar di gedung DPR RI di Senayan, Jakarta, Kamis.
Ia mengatakan bahwa hal ini pun sesuai dengan pesan yang dulu pernah disampaikan oleh Panglima TNI Gatot Nurmantyo yang menekankan pentingnya TNI dan Polri menjaga hubungan yang solid.
Tito juga mengatakan bahwa Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto sudah mengumpulkan 11 instansi terkait untuk membahas regulasi senjata dan perizinan pengadaan senjata.
"Saya pikir polemik senjata api termasuk yang di Brimob [Brigade Mobil], biarkan pemerintah dulu yang melakukan koordinasi dan sinkronisasi lalu Menkopolhukam yang akan menyampaikan kepada publik," kata Tito.
Sebanyak 280 pucuk senjata stand alone grenade launcher (SAGL) beserta amunisinya sebanyak 5.932 butir yang diimpor Polri dari Bulgaria sempat ditahan oleh Badan Intelijen Strategis TNI di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Banten, pada 29 September.
Polri mengatakan bahwa senjata tersebut bersifat melumpuhkan dan tidak mematikan sebab bukan senjata serbu.
Setelah menggelar serangkaian rapat dengan instansi terkait, akhirnya diputuskan bahwa amunisi akan disimpan di Markas Besar TNI dan jika Polri butuh, Polri harus melapor kepada TNI terlebih dahulu.
Selain itu, Menkopolhukam Wiranto juga menegaskan pemerintah akan membuat aturan baru mengenai persenjataan mengingat banyaknya aturan tentang pengadaan senjata api yang tumpang tindih dengan aturan lain.