Pizaro Gozali
16 Oktober 2017•Update: 16 Oktober 2017
Pizaro Gozali
JAKARTA
Perwakilan LSM dan akademisi dari 16 negara di Asia Pasifik berkumpul di Jakarta untuk mencegah aksi ekstrimisme dengan pendekatan perdamaian. Kegiatan ini digelar The Asian Muslim Action Network (AMAN) Indonesia bekerjasama dengan Action Asia
Presiden Dewan Filipina untuk Islam dan Demokrasi Amina Rasul mengatakan pendidikan memegang peran penting melawan penyalahgunaan doktrin agama untuk mencegah aksi ekstrimisme.
“Kita harus memperkuat sistem pendidikan kita, khususnya madrasah, dalam menanamkan nilai-nilai yang benar dan menciptakan dialog antar iman,” jelas Amina di Jakarta, Senin.
Amina mengatakan pemuda ASEAN juga berperan menyebarkan pesan-pesan perdamaian melawan bahaya ekstrimisme. “Saat ini pemuda menjadi target ekstrimisme. Kita harus memberdayakan pemuda ASEAN,” ujar dia.
Amina mengatakan selama ini perempuan adalah pihak yang merasakan dampak besar kejahatan ekstrimisme. Karena itu, perempuan harus dilibatkan sebagai juru damai.
Peran tokoh agama
Presiden The Asian Muslim Action Network (AMAN) Azyumardi Azra mengatakan negara tidak akan bisa melawan radikalisme tanpa menegakkan hukum. Instrumen hukum bisa digunakan pemerintah untuk merespon aksi ekstrimisme.
“Kita sering melihat aparat membiarkan aksi-aksi kekerasan terjadi terhadap minoritas,” papar dia.
Selain itu, Azyumardi Azra mengharapkan para pemimpin agama turun tangan melawan ekstrimisme dengan cara mendudukkan makna jihad.
“Mereka harus berusaha keras untuk mengatakan bom bunuh diri itu bukan jihad,” ujar dia.
Untuk mencegah ekstrimisme, Azra menilai sudah saatnya kalangan sipil dan aktivis untuk menggelar konsolidasi demokrasi.
Dalam rilisnya, AMAN mengatakan forum ini ingin digelar untuk menyediakan ruang diskusi dalam rangka membangun perdamaian. Selain itu, forum ingin mendorong pemerintah dan dunia internasional menggunakan pendekatan holistik dalam mencegah ekstrimisme.