Nasional

Cerita pertarungan hari-hari pramudi TransJakarta

Bagi pengemudi wanita, mengemudikan kendaraan berbadan besar tak sekadar membutuhkan tenaga yang besar, namun juga nyali dan sedikit trik

Megiza Soeharto Asmail  | 10.04.2018 - Update : 11.04.2018
Cerita pertarungan hari-hari pramudi TransJakarta Syarah (39) menunjukkan sistem pelayanan bus TransJakarta yang dikendarainya setiap hari untuk rute PGC Cililitan-​Ancol, di pool TransJakarta, 8 April 2018. (Megiza Asmail - Anadolu Agency)

Jakarta Raya

Megiza Asmail

JAKARTA 

Memiliki jalur khusus di antara jalanan ibu kota Jakarta yang dibanjiri jutaan mobil dan motor setiap harinya, ternyata tidak bisa membuat pengemudi bus TransJakarta dapat jemawa saat wira-wiri mengemudikan kendaraannya yang berbadan besar.

Tabiat sebagian warga Jakarta yang suka mencolong jalur TransJakarta demi cepat tiba ke tujuan – atau kelakuan para pemotor yang tidak ingin stres karena harus berimpitan dengan kendaraan pribadi yang tumpah di jalan-jalan kota – adalah beberapa masalah yang harus dihadapi oleh pengemudi TransJakarta tiap bertugas.

Tantangan pun tentu menjadi lebih berat ketika situasi-situasi tersebut dihadapi oleh para pramudi, alias wanita pengemudi bus. Banyak lembaga penelitian kesehatan internasional yang menemukan bahwa wanita lebih rentan stres dibanding pria.

Kewajiban harian untuk mengurus pekerjaan sekaligus kehidupan anak-anaknya, dan juga orang tua, disebut-sebut para peneliti menjadi penyebab kaum wanita pekerja memiliki tingkat stres yang lebih tinggi daripada kaum pria.

Salah satu pramudi bus TransJakarta, Syarah (39), bercerita kepada Anadolu Agency tentang tantangan harian yang harus dihadapinya saat membawa kendaraan berbadan besar itu di tengah rimba kemacetan Jakarta.

Delapan tahun sudah wanita beranak dua ini menghabiskan waktu selama delapan jam dalam sehari di belakang kemudi bus. Sebelum resmi bergabung dengan TransJakarta pada dua tahun lalu, Syarah memang sudah lihai menaklukkan kendaraan-kendaraan besar.

Meski begitu, hingga hari ini, masih saja ada kondisi yang tidak bisa ditampik oleh Syarah sebagai kendala saat dia mengendarai bus TransJakarta. Salah satunya adalah ketika dia harus mengambil penumpang di jalur umum, yang ukurannya tak selebar jalur khusus TransJakarta.

“Sulit kalau kita di jalur yang nge-pres, jalur yang pas-pasan buat [mobil ukuran] sedan. Mau enggak mau kita harus bisa main feeling. Karena untuk putaran pom bensinnya saja sempit banget,” kata Syarah ditemui di kantor TransJakarta.

Syarah melanjutkan, dia sadar benar bahwa bagi para pengguna kendaraan bermotor satu prinsip yang harus disadari adalah ‘kalau tidak ditabrak oleh pengendara lain, ya menabrak pengendara yang lainnya’.

Karenanya, dia mengaku siap menerika risiko apa pun selama bekerja sebagai pramudi. Hanya saja, Syarah memastikan tidak bakal berdiam diri jika ada pengendara lain yang melukai kendaraan ‘pegangannya’.

“Kalau di bus itu kita harus siap terima risiko apa pun. Saya mah lecet sedikit saja saya udak (kejar). Mau tentara juga saya enggak takut,” tutur Syarah.

Dia pun menceritakan peristiwa beberapa hari lalu ketika seorang pengendara mobil memaksa melintas di depan bus yang dikendarainya. Kala itu, Syarah sudah menahan busnya ketika mendapat sinyal dari mobil patroli dan pengawal (Patwal) yang meminta izin untuk mendahului.

Namun ketika mobil Patwal tersebut melintas, sebuah mobil pribadi ikut berusaha membuntuti dengan menyalip di depan bus ‘bawaan’ Syarah.

“Mobil itu ambil dari kanan langsung ke kiri. Saya tarik rem tangan, saya turun, saya samperin. Saya enggak banyak omong. Karena orang itu tidak mau mengaku, ya saya lanjutkan [perkaranya], saya panggil polisi. Namanya mobil masih baru, yang tadinya mobil itu cantik, ya harus cantik lagi. Akhirnya orang itu di bawa ke Tim Laka Busway,” ungkap Syarah.

Aksi ‘slonong boy’ alias melintas tanpa permisi dari pengendara tak bertanggung jawab itu yang menurut Syarah membuat para pengemudi bus TransJakarta harus sangat berhati-hati di jalur reguler dan di jalur khusus TransJakarta sekalipun.

“Di jalur sendiri saja bisa disalahkan. Kesannya pengemudi busway ugal-ugalan. Padahal kami juga sudah berhati-hati,” imbuh dia.

Dengan kebiasaan buruk sebagian pengendara mobil ataupun motor di Jakarta yang kerap menerabas aturan lalu lintas itu, Syarah pun berharap ada peraturan dan tindakan yang tegas kepada pengendara umum yang menggunakan jalur TransJakarta.

“Minta itu saja, jalur busway itu kalau bisa ada Undang-undangnya. Kok kami salah terus? Padahal jalur kami hanya segitu, kecepatan kami enggak boleh lebih dari 50 km/hr, dan haltenya enggak jauh-jauh,” sebut Syarah.

Syarah (39) berpose di depan bus-bus TransJakarta yang dikendarainya setiap hari untuk rute PGC Cililitan-​Ancol, di pool TransJakarta, 8 April 2018. (Megiza Asmail - Anadolu Agency)

Kopi dan garam

Bekerja menjadi pengemudi bus besar yang sangat mengandalkan keyakinan dan konsentrasi memang sudah menjadi pilihan Syarah. Dengan segala kemungkinan kendala yang harus dihadapinya di jalanan setiap hari, dia mengaku menikmati menjalani profesi sebagai pramudi.

Pilihan hidup untuk bertarung dengan kemacetan dan penuh kesabaran demi memberi pelayanan yang baik telah dibuatnya. Begitu pun dengan memutar jam aktivitas harian yang terbilang tidak seperti orang biasa.

Lima hari dalam sepekan, Syarah beranjak dari tempat tidurnya pada pukul 02.00 dini hari. Jam di mana sebagian orang di Jakarta baru terlelap atau malah masih bersosialisasi di kedai-kedai kopi 24 jam.

Usai mandi dan berkemas dia meninggalkan rumahnya di kawasan Setia Kawan, Jakarta Pusat, dan meluncur ke pool TransJakarta di bilangan Cawang, Jakarta Timur. Pukul 03.00 dia sudah menjentikkan jarinya di mesin absensi, tanda jam kerjanya dimulai.

Diluangkan waktunya sekitar 30 menit untuk memeriksa kendaraan yang akan menemaninya hingga siang hari sebelum meninggalkan pool. Dia pun kemudian membawa bus menuju terminal yang sudah ditentukan.

Belakangan ini, Syarah bertugas melayani penumpang rute PGC Cililitan-Ancol. Tepat pukul 05.00, dia pun sudah mulai memberikan pelayanannya. Dalam delapan jam bekerja, biasanya Syarah berhasil menuntaskan tiga rit perjalanan (PGC-Ancol-PGC untuk satu rit).

Berjam-jam duduk di balik kemudi sejak matahari belum muncul hingga akhirnya tepat berada di atas busnya, tentu bukan hal yang ringan meski sudah bertahun-tahun dijalani Syarah.

Kewajiban memiliki konsentrasi penuh selama bekerja membuat dia mencari cara untuk tetap jeli dan fokus saat di jalan. Sebuah termos berisi air panas, beberapa kopi sachet dan garamlah yang menjadi kuncian dia untuk tetap terjaga.

“Saya bawa termos air panas, gelas plastik dan sendok setiap hari. Kalau saya bikin kopi hitam dikasih garam sedikit, biar bisa bikin melek. Kopi sachet kan sudah dicampur gula, nah jangan diaduk, kasih garam saja sedikit,” kata Syarah membuka rahasia.

Dia mengaku menghindari untuk membeli kopi di warung terminal ketika beristirahat. Pasalnya, Syarah tak mau jika harus repot bolak-balik ke toilet kalau-kalau air seduhan kopi yang dipesannya di warung menggunakan air yang tidak matang 100 persen.

“Kalau minum di jalan kan airnya suka enggak matang. Nanti malah masalah bikin ke WC melulu. Kalau sudah begitu, pelayanan kan bisa jadi terganggu,” tutur Syarah.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.