Sefa Mutlu
01 Februari 2018•Update: 02 Februari 2018
Sefa Mutlu
ISTANBUL
Konferensi tingkat tinggi di Istanbul, yang mengumpulkan para cendekiawan Muslim dari seluruh dunia, berakhir pada Selasa malam dengan menghasilkan sebuah deklarasi yang menekankan pentingnya peran agama di Yerusalem.
Acara yang diselenggarakan oleh Direktorat Urusan Keagamaan Turki (Diyanet) selama dua hari tersebut dihadiri oleh 70 cendekiawan Muslim dari 20 negara, termasuk Pakistan, Inggris, Indonesia, dan Prancis.
Di penghujung konferensi tersebut, kepala Diyanet Ali Erbas membacakan deklarasi akhir sebanyak 22 poin dengan lantang.
"Dunia Islam harus menyuarakan - dengan segala cara - bahwa Yerusalem adalah isu bersama bagi semua Muslim, tidak hanya bagi orang Palestina dan Arab, dan bahwa Yerusalem adalah ibu kota Palestina," tegas Erbas.
"Untuk mewariskan pengetahuan agama dan sejarah tentang Palestina ke generasi baru, Yerusalem dan Al-Aqsa harus dimasukkan dalam kurikulum pendidikan. Lembaga penelitian dan media yang mendukung perjuangan di Yerusalem juga harus diberi dukungan." tambah dia.
Erbas menambahkan, umat Islam di seluruh dunia harus mengunjungi Yerusalem dengan pandangan untuk meningkatkan kesadaran mengenai perjuangan Palestina.
"Sepanjang sejarahnya, Yerusalem berada di bawah dominasi asing, dan menikmati masa penuh keadilan dan toleransi hanya selama periode pemerintahan Muslim," kata dia.
Yerusalem masih menjadi poros konflik Timur Tengah, karena Yerusalem Timur - yang diduduki Israel sejak 1967 - dicita-citakan orang-orang Palestina sebagai ibu kota Palestina di masa yang akan datang.
Akhir tahun lalu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, yang telah memicu kecaman dan aksi protes di sejumlah negara Arab dan Muslim.