Iqbal Musyaffa
09 Januari 2020•Update: 10 Januari 2020
JAKARTA
Pemerintah mengatakan pengembangan blok migas di Natuna hingga saat ini masih belum dilakukan karena hambatan keuangan.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Djoko Siswanto mengatakan untuk pengembangan lapangan gas membutuhkan investasi yang besar karena perlu ada pemisahan kandungan CO2 terlebih dahulu sehingga secara teknis juga lebih sulit.
Dia menjelaskan bahwa di Blok East Natuna terdapat dua lapangan, yakni lapangan gas yang mengandung CO2 tinggi hingga 72 persen dan satu lainnya lapangan minyak.
“Kita fokus mau selesaikan yang lapangan minyak dulu karena investasinya tidak terlalu besar dan tidak perlu ada pemisahan CO2-nya,” jelas Djoko di Jakarta, Kamis.
“Kita fokus ke minyaknya dulu dan mudah-mudahan tahun ini sudah mulai dilakukan pengeboran minyak di Natuna,” tambah Djoko.
Dia mengatakan pemerintah akan mengundang Exxon Mobil untuk menawarkan pengembangan blok migas dan bermitra bersama Pertamina.
Sebagai informasi, produksi minyak dari blok-blok di Natuna mencapai 25.447 barel per hari sementara produksi gas bumi mencapai 489,21 MMSCFD.
Berdasarkan data dari SKK Migas, volume gas di blok East Natuna mencapai 222 TCF (triliun kaki kubik), namun cadangan terbuktinya hanya 46 TCF yang juga masih lebih besar dari cadangan gas yang ada di blok Masela yang sebesar 10,7 TCF.
Namun, Djoko mengatakan untuk pengembangan gas di kawasan tersebut masih memerlukan waktu lebih lama karena membutuhkan adanya teknologi dan nilai investasi yang besar.