Muhammad Nazarudin Latief
04 Desember 2017•Update: 05 Desember 2017
Muhammad Nazarudin Latief
JAKARTA
Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan inflasi pada November 2017 sebesar 0,20 persen, sedangkan inflasi tahunan sebesar 2,87 persen, dan 3,30 persen year on year (yoy).
Kepala BPS Suhariyanto pada Senin mengatakan inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga sembilan bahan pokok (Sembako) di sejumlah daerah pada periode ini.
Dari 82 kota yang dipantau dalam riset Indeks Harga Konsumen (IHK), sebanyak 68 kota mengalami inflasi dan 14 kota mengalami deflasi.
Beberapa komoditas yang naik antara lain, cabai merah, bawang merah, beras, daging ayam ras, ikan segar, telur ayam ras, mi, rokok kretek filter dan bensin. Sedangkan komoditas yang harganya turun adalah apel, jeruk, tomat dan bawang putih.
“Kelompok bahan makanan, makanan jadi, perumahan, bahan bakar, sandang, kesehatan, pendidikan, rekreasi, dan olah raga, naik semua,” ujar dia.
Inflasi November ini adalah yang tertinggi sejak Agustus. Pada Agustus terjadi deflasi 0,07 persen, September sebesar 0,13 persen dan Oktober 0,13 persen.
Inflasi tertinggi terjadi di Singaraja, Bali, sebesar 1,80 persen. Inflasi terendah terjadi di Bekasi, Jawa Barat dan Palopo, Sulawesi Selatan, masing-masing sebesar 0,02 persen.
Sedangkan deflasi tertinggi terjadi di Tual, sebesar 2,74 persen, dan terendah terjadi di Manokwari sebesar 0,02 persen dengan IHK sebesar 124,20.