Muhammad Nazarudin Latief
15 Januari 2021•Update: 17 Januari 2021
JAKARTA
Indonesia kembali mengalami surplus perdagangan pada Desember 2020 sebesar USD2,1 miliar, lebih kecil dari November yang mencapai USD2,59 miliar, ujar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto, di Jakarta, Jumat.
Surplus berasal dari selisih nilai ekspor sebesar USD16,54 miliar dan impor yang hanya USD14,44 miliar.
Dari data BPS, Indonesia sudah mengalami 10 kali surplus perdagangan bulanan pada 2020, sedangkan defisit perdagangan hanya dua kali yaitu Januari dan Maret.
Surplus perdagangan terjadi dengan beberapa negara, paling besar adalah Amerika Serikat sebesar USD1,8 miliar, kemudian India sebesar USD1,2 miliar dan Filipina sebesar USD568 juta.
Namun Indonesia tetap mengalami defisit dengan China sebesar USD1,1 miliar, Australia USD260,2 miliar dan Brazil USD203 miliar.
Dari sisi ekspor, pada Desember 2020 naik sebesar 8,39 senilai USD16,5 miliar, dibanding pada November yang tercatat USD15,26 miliar.
Hal ini terjadi karena ekspor migas mengalami kenaikan hingga 33,66 persen menjadi USD1,02 miliar, sedangkan komoditas nonmigas naik 7,06 persen menjadi USD15,52 miliar.
Nilai ekspor pada 2020 sempat turun pada Mei menjadi hanya USD12,16 miliar, namun kembali mengalami grafik naik pada bulan berikutnya hingga Desember.
Dari sisi komoditas, harga CPO naik 6,62 persen secara bulanan dan 28,13 persen secara tahunan.
Batu bara juga naik 28,93 persen secara bulanan dan 25,5 persen secara tahunan.
“Dua komoditas ini naik sehingga berpengaruh pada nilai ekspor Indonesia pada 2020,” ujar Suhariyanto.
Namun total ekspor pada 2020, menurut Suhariyanto turun 2,61 persen, dari USD167,68 miliar pada 2019 menjadi USD163,31 miliar tahun lalu.
Sedangkan impor pada Desember 2020 naik 14,00 persen dibanding bulan sebelumnya menjadi USD14,44 miliar.
Namun secara tahunan impor turun tipis 0,47 persen dibanding Desember 2019 yang mencapai USD14,51 miliar.