İqbal Musyaffa
10 April 2019•Update: 11 April 2019
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menargetkan untuk bisa menyerap 2.542 ton aspal karet untuk 12 paket pekerjaan preservasi jalan di 9 provinsi dengan total panjang mencapai 65,8 Km.
Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan pada setiap 1 Km jalan dibutuhkan 2,7 ton karet.
Dia juga mengatakan penggunaan aspal karet bertujuan untuk menyerap hasil karet petani lokal di tengah menurunnya harga karet dunia, selain juga untuk membuat kualitas jalan lebih bagus dibandingkan penggunaan aspal biasa.
“Di Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2019 ada 33 Km jalan yang pengaspalannya menggunakan campuran karet dan akan terus diperluas,” ujar Menteri Basuki dalam keterangan resmi, Rabu.
Dia menambahkan pemerintah juga akan menggunakan aspal karet untuk perkerasan jalan tol karena aspal karet lebih kuat dengan daya lentur yang tinggi.
“Sehingga apabila menahan beban berat, penurunannya kualitas jalan tidak cepat terjadi,” kata Menteri Basuki.
Menteri Basuki juga mengatakan bahwa Kementerian PUPR telah memiliki pedoman sebagai acuan pemanfaatan karet untuk aspal yang telah disampaikan kepada Kementerian Dalam Negeri melalui Kementerian Koordinator Perekonomian yang kemudian disampaikan kepada seluruh Pemerintah Daerah.
Dia mengatakan pemerintah menargetkan pembelian bahan olahan karet (Bokar) dari petani pada tahun 2019 sebanyak 2.504 ton atau setara 1.252 ton SIR 20.
Selanjutnya, bokar diolah menjadi bahan aspal karet (SIR 20) dan menghasilkan 17.889 ton aspal karet.
Menurut Menteri Basuki, pembelian bokar di antaranya berasal dari Provinsi Jambi sebanyak 835 ton dari 11.000 petani dengan harga Rp8.500 per kg.
Hingga 26 Maret 2019 telah terealisasi 20 ton dari 139 petani seharga Rp9.000.
Kemudian, bokar juga dibeli dari Provinsi Sumatera Selatan yang direncanakan sebanyak 1.096 ton dari 13.300 petani dengan harga Rp8.500 per Kg.
Saat ini, sudah terealisasi 311 ton dari 2.912 dengan harga Rp 7.700 hingga Rp 11.100 per Kg.
Selanjutnya, pembelian bokar juga berasal dari Provinsi Lampung yang ditargetkan sebanyak 586 ton dari 7.700 petani dengan harga Rp8.500 per Kg, namun baru terealisasi sebanyak 45 ton dari 302 petani seharga Rp9.000-Rp10.000.
“Semakin luasnya pemanfaatan aspal karet diharapkan akan menaikkan nilai jual karet petani dari semula Rp 6.500 di tahun 2018, kini harganya sudah ada yang mencapai Rp 10.000,” lanjut Menteri Basuki.
Dia menjelaskan pengadaan bokar dilakukan secara bertahap untuk menghindari penyimpanan dalam waktu lama yang dapat menyebabkan karet alam rusak.
“Selain itu, sebagian dari bahan olahan karet tersebut akan dihibahkan ke provinsi dan kabupaten yang sudah mencanangkan penerapan aspal karet,” imbuh dia.
Indonesia merupakan salah satu produsen karet alam terbesar di dunia. Setiap tahun produksi karet alam Indonesia mencapai 3,2 juta ton dengan 0,6 juta ton di antaranya dimanfaatkan industri dalam negeri, sementara 2,4 juta ton lainnya di ekspor.