JAKARTA
Harga minyak dunia yang cenderung turun menjadi ancaman baru bagi APBN 2020, selain ancaman yang berasal dari perdagangan internasional yang turun akibat virus korona
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto mengatakan penurunan harga minyak dunia menjadi hal yang mengejutkan, karena lesunya ekonomi dunia berimplikasi luas terhadap harga minyak dunia.
“Penurunan tajam harga minyak dunia ini menurut saya akan berdampak ke APBN, pada sisi penerimaan migas pasti akan drop juga karena harga rendah, sehingga pendapatan negara rendah,” ujar Eko kepada Anadolu Agency, Rabu.
Eko mengatakan dari sisi penerimaan negara bukan pajak dan pajak korporasi minyak akan turun sehingga mempersulit pemerintah mengejar target penerimaan negara. Dampak lainnya, defisit anggaran dalam APBN akan melebar dari target 1,76 persen PDB.
Pelebaran defisit anggaran tersebut juga sudah dikonfirmasi oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani yang mengatakan defisit akan melebar mencapai 2,2-2,5 persen.
“Tanpa ada penurunan harga minyak dunia pun, ekonomi sudah sulit karena ada korona, industri lesu, dan sisi fiskal perlu kerja keras untuk capai target penerimaan. Apalagi ditambah harga minyak turun,” imbuh Eko.
Akan tetapi, pada sisi lain Eko mengatakan penurunan harga minyak dunia ini membantu penekanan volume impor migas yang tinggi.
Namun, APBN Indonesia lebih diuntungkan dari peningkatan harga minyak dunia bila dibandingkan dengan penurunan harga minyak yang menyebabkan penerimaan negara turun.
“Saat harga minyak naik akan katrol harga komoditas lain. Saat minyak turun, juga sebabkan harga komoditas turun,” imbuh Eko.
Dia mengatakan anjloknya harga minyak akan membuat harga komoditas energi lainnya seperti batubara juga akan anjlok karena harga minyak saat ini menggambarkan kondisi ekonomi dunia dan permintaan yang melandai dalam tiga bulan ke depan.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (Core) Mohammad Faisal mengatakan semestinya Indonesia sebagai negara net importir minyak bisa diuntungkan dengan turunnya harga minyak dunia, karena biaya produksi energi untuk konsumsi rumah tangga dan industri akan lebih rendah.
“Tapi ini bergantung pada transmisi penurunan minyak global pada harga BBM dalam negeri. Manfaat bisa terasa kalau direspon dengan penurunan harga BBM di dalam negeri sesuai nilai keekonomiannya,” ujar Faisal kepada Anadolu Agency.
Faisal mengatakan apabila penurunan harga minyak dunia tidak ditransmisikan pada penurunan harga BBM di dalam negeri, maka dampak dari penurunan harga minyak hanya dirasakan oleh Pertamina dan perusahaan migas saja, tidak dirasakan oleh masyarakat luas dan juga sektor industri.
Dia menambahkan turunnya harga minyak dunia bisa berdampak positif pada belanja subsidi terutama subisidi energi yang bisa semakin rendah, khususnya untuk subsidi BBM dan listrik, walaupun nilai subsidi energi saat ini sudah semakin kecil.
Apabila penurunan harga minyak tidak ditransmisikan ke harga BBM dalam negeri, maka tidak akan ada dampak positif apapun.
“Saat ada tekanan ekonomi karena virus korona, pemerintah bisa memberikan stimulus untuk redam dampak ekonomi global melalui penurunan harga BBM yang seharusnya jadi bagian dari stimulus dan bisa dipakai untuk mendorong konsumsi dan produksi,” lanjut Faisal.
Sementara itu, harga minyak dunia pada hari ini, untuk jenis Brent pengiriman Mei sudah mulai membaik, dengan naik sebesar USD2,86 atau 8,32 persen menjadi USD37,22 per barel. Kemudian minyak mentah berjangka West Texas Intermediate untuk pengiriman April juga membaik USD3,23 atau 10,38 persen menjadi USD34,36 per barel.
news_share_descriptionsubscription_contact
