Muhammad Latief
JAKARTA
Indonesia mengalami kemunduran aktivitas eksplorasi minyak dan gas dalam 15 tahun terakhir, padahal negara-negara lain yang sebelumnya memiliki cadangan migas lebih kecil mulai membenahi sektor investasi hulu migas.
“Pemerintah memang memiliki banyak pekerjaan rumah untuk mengembalikan minat dan gairah investor migas global untuk eksplorasi dan eksploitasi migas di Tanah Air,” ujar Presiden Indonesian Petroleum Association (IPA), Tumbur Parlindungan dalam siaran persnya, Jumat.
Menurut Tumbur, dengan proyeksi produksi migas nasional, Indonesia diperkirakan tetap mengimpor minyak bumi dalam jumlah besar jutaan barrel oil per day (BOPD) hingga 2050.
Proyeksi produksi nasional sebesar 567.000 BOPD pada 2025, dan meningkat sedikit pada 2050 menjadi sebesar 698.000 BOPD.
Sementara itu, untuk kebutuhan kilang minyak mentah nasional pada 2025 mencapai 2,19 juta BOPD dan meningkat menjadi 4,61 juta BOPD pada 2050.
Dengan demikian, impor minyak mentah nasional pada 2025 berkisar 1,67 juta BOPD dan 3,92 juta BOPD pada 2050.
“Kita perlu melihat apa yang dikerjakan Malaysia sehingga menjaga produksi berkisar 700.000 BOPD selama periode 2000 -2018,” ujar dia.
Menurut dia, Malaysia memang mengalami penurunan cadangan minyak sebesar 20 persen dalam kurun 2000 – 2016 atau dari 4,5 miliar barel menjadi 3,6 miliar barel. Namun cadangan migas Indonesia turun lebih dalam, dari 5,1 miliar barrel pada 2001, menjadi sekitar 3,3 miliar barrel pada akhir 2016.
“Langkah yang ditempuh negara lain di antaranya memperbaiki rezim fiskalnya. Sehingga, investor punya banyak opsi untuk berinvestasi.
“Jika Indonesia dianggap kurang menarik dan sementara negara lain lebih menarik, tentu mereka masuk ke sana.”
Menurut dia Indonesia masih mempunyai kemampuan untuk meyakinkan investor global menanamkan investasinya meski risiko bisnis hulu migas relatif tinggi.
Apalagi berbekal pengalaman, bahwa kita pernah mampu menarik investor global, yakni era proyek LNG Bontang, Blok Rokan dan Blok Mahakam.
Menurut Tumbur ada beberapa proyek besar saat ini sedang didiskusikan yang bisa meningkatkan posisi Indonesia di masa investor, yaitu Indonesia Deepwater Development (IDD) dan Proyek LNG Abadi.
Selain itu, Februari lalu Repsol juga mengumumkan cadangan terbukti gas bumi mencapai sekitar 2 triliun kaki kubik (TCF) di Blok Sakakemang.
Menghadirkan proyek setara Lapangan Banyu Urip atau temuan migas di Blok Sakakemang, Sumatera Selatan, bisa menjadi harapan baru lagi semua pihak, ujar Tumbur.
Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas, Wisnu Prabawa Taher mengatakan pengembangan lapangan migas diharapkan bisa lebih bergairah.
Sejauh ini pemerintah sudah memberikan berbagai insentif seperti PSC Gross Split, mulai dari lokasi lapangan, kedalaman dan kondisi reservoir, ketersediaan infrastruktur, kandungan bahan lain, berat jenis minyak, TKDN.
Selama periode 2018-2016, Indonesia berhasil mencapai besaran nilai Komitmen Kerja Pasti (KKP) dan Komitmen Pasti dalam Kontrak Kerja Sama sebesar USD1.14 miliar. Nilai diperoleh dari 47 studi G&G, 79 sumur eksplorasi, 38 survei seismik, dan 4 survei pada 24 Wilayah Kerja.
“Kegiatan eksplorasi (khusus KKP) bisa dilaksanakan di open area untuk mendorong lebih banyak temuan lapangan baru,” ujar dia.
news_share_descriptionsubscription_contact
