Cebrail Caymaz, Adsiz Gunebakan, Rauf Maltas dan Muslum Etgu
12 Mei 2022•Update: 15 Mei 2022
KILIS/SANLIURFA, Turki
Warga Suriah yang tinggal di Turki di bawah perlindungan sementara tengah dalam proses pemulangan.
Situasi di Suriah kini telah memungkinkan warga kembali setelah operasi anti-teror Turki melintasi perbatasannya di Suriah utara, pembentukan daerah aman dan layanan publik yang berkelanjutan, terutama pendidikan dan Kesehatan.
Sejak 2016, Ankara telah meluncurkan tiga operasi anti-teror yang berhasil melintasi perbatasannya di Suriah utara untuk mencegah pembentukan koridor teror dan memungkinkan penyelesaian damai antara lain Perisai Eufrat (2016), Ranting Zaitun (2018), dan Perdamaian Musim semi (2019).
Sejak Operasi Perisai Efrat, hampir 500.000 warga Suriah telah kembali ke negara mereka.
Tim Anadolu Agency di lapangan telah merekam video kembalinya warga Suriah melalui perbatasan selatan Turki.
Sementara itu, berbagai proyek terus berlanjut di wilayah tersebut untuk memungkinkan kembalinya 1 juta warga Suriah.
'Senang bisa kembali'
Warga Suriah, yang tinggal di berbagai bagian Turki, tiba di pusat pemulangan sukarela di gerbang adat Kilis Oncupinar, Sanliurfa Akcakale, dan Gaziantep Karkamis dan mengisi formulir permintaan pemulangan sukarela.
Setelah itu, mereka menyeberang ke Suriah melalui bus dan disambut oleh kerabat mereka.
Berbicara kepada Anadolu Agency, seorang guru Suriah, Mohammed Al Abdullah, mengatakan dia akan terus mengajar anak-anak di Suriah.
Abdurrezzak Daga, yang juga termasuk warga yang telah kembali ke Suriah, mengungkapkan kebahagiaannya bisa kembali ke negaranya.
"Saya meninggalkan negara saya sekitar dua setengah tahun yang lalu karena perang. Sekarang kami tinggal di Tal Abyad... Saya berterima kasih kepada Turki, semoga Allah meridhoi semua orang di sana," tambahnya.
Suriah telah terjebak dalam perang saudara sejak awal 2011 ketika rezim Bashar al-Assad menindak protes pro-demokrasi dengan kebrutalan yang tak terduga.
Menurut angka resmi PBB, lebih dari 350.000 orang telah kehilangan nyawa karena konflik, tetapi kelompok hak asasi manusia memperkirakan jumlah korban tewas mencapai 500.000-600.000.
Lebih dari 14 juta harus meninggalkan rumah mereka, menjadi pengungsi atau pengungsi internal, menurut UE.