Rhany Chairunissa Rufinaldo
04 September 2019•Update: 05 September 2019
Aamir Latif
KARACHI, Pakistan
Ribuan warga Pakistan turun ke jalan-jalan di Kota Karachi pada Minggu untuk menyuarakan protes terhadap pencabutan status khusus Jammu dan Kashmir oleh India.
Mengibarkan bendera Pakistan dan Azad Kashmir. pengunjuk rasa berkumpul di alun-alun utama kota Shahrah-e-Faisal.
Aksi tersebut diorganisir oleh Jamaat-e-Islami (JI) - partai agama terbesar di Pakistan - dan dihadiri oleh perwakilan dari beberapa partai politik dan agama, termasuk mantan Ketua Senat Pakistan Raza Rabbani.
Di tengah hujan deras, ratusan wanita terlihat membawa spanduk dan plakat dengan slogan-slogan bertuliskan "Saya mendukung Kashmir", "India keluar dari Kashmir", "Selamatkan Kashmir" dan "Kashmir akan menjadi Pakistan."
Pengunjuk rasa lainnya membawa plakat yang memajang foto-foto para pemimpin pro-kebebasan Jammu dan Kashmir, seperti Syed Ali Gilani, Yaseen Malik dan Burhan Muzaffer Wani, seorang pejuang muda yang menginspirasi pemuda Kashmir sebelum terbunuh dalam bentrokan dengan tentara India pada 2016.
"Kami telah berkumpul di sini untuk memberi tahu saudara-saudara kami warga Kashmir bahwa seluruh negara Pakistan berdiri di samping mereka dalam perjuangan yang adil", kata Alia Hussein, seorang peserta demonstrasi, kepada Anadolu Agency, sambil menggendong putranya yang masih bayi.
Berorasi dalam aksi itu, Ketua JI Senator Siraj-ul-Haq memperingatkan bahwa jika komunitas global gagal bertindak dan tidak menghentikan India dari kampanye pembersihan Kashmir, minoritas di India akan menjadi target berikutnya dari pemerintah nasionalis Hindu India.
"Kami tidak peduli tentang penghapusan hak-hak khusus Kashmir yang diduduki. Kami tidak akan berhenti bahkan jika India memulihkan pasal 370," kata Haq.
Dia menegaskan bahwa perjuangan Pakistan akan terus berlanjut sampai pembebasan Kashmir bebas dari pendudukan India.
Haq berpendapat bahwa pembatalan artikel oleh India membuka jalan bagi intervensi internasional di wilayah Himalaya karena New Delhi sendiri telah melanggar perjanjian yang telah dijanjikannya kepada Kashmir pada 1947 dan 1950.
Dia meminta Islamabad untuk keluar dari semua perjanjian bilateral dengan India terkait Jammu dan Kashmir.