Rhany Chairunissa Rufinaldo
05 Mei 2020•Update: 06 Mei 2020
Merve Aydogan
ANKARA
Dalam sebuah laporan baru yang dirilis pada Selasa, UNICEF memperkirakan 19 juta anak-anak hidup dalam pengungsian di negara mereka sendiri pada 2019.
"Pada akhir 2019, diperkirakan 46 juta orang kehilangan tempat tinggal akibat konflik dan kekerasan. Lebih dari 4 dari 10 (atau sekitar 19 juta) di antaranya adalah anak-anak," menurut laporan yang berjudul "Lost at Home".
Hampir 33 juta warga telantar pada 2019 - sekitar 25 juta karena bencana alam dan 8,5 juta karena konflik dan kekerasan. Dari jumlah tersebut, 12 juta di antaranya adalah anak-anak.
Afrika Barat dan Tengah, serta Timur Tengah dan Afrika Utara, memiliki jumlah anak telantar terbesar.
Laporan UNICEF mengatakan penghitungan itu adalah tertinggi yang pernah ada dan menekankan bahwa wabah Covid -19 yang sedang berlangsung menimbulkan lebih banyak bahaya dan ketidakpastian bagi kehidupan mereka.
Pandemik itu, memperburuk kehidupan anak-anak yang dipindahkan secara internal dan keluarga mereka karena mereka cenderung tinggal di kamp-kamp yang penuh sesak atau permukiman informal, di mana akses ke layanan kebersihan dan kesehatan dasar terbatas dan di mana jarak fisik tidak memungkinkan.
Mendesak untuk aksi global, UNICEF meminta negara-negara berkumpul di bawah Panel Tingkat Tinggi tentang Pengungsian Internal untuk menyediakan rumah yang aman, perlindungan dan akses yang adil ke layanan untuk setiap anak yang telantar secara internal dan menerjemahkan dampak nyata dalam kehidupan anak-anak di lapangan.