Barry Eitel
16 Mei 2018•Update: 16 Mei 2018
Barry Eitel
SAN FRANCISCO
Twitter mengumumkan perubahan signifikan pada Selasa terkait bagaimana mereka memerangi pengguna layanan yang mencuitkan postingan atau kalimat kasar.
Perusahaan teknologi ini telah lama dikritik karena dianggap memberikan tempat untuk pengguna yang dengan sengaja melecehkan orang lain, atau yang dikenal dengan nama troll.
Meskipun trolling sering tidak berbahaya, beberapa troll menargetkan pengguna dengan ancaman kematian dan ancaman lainnya.
Twitter mengatakan telah merevisi algoritmanya untuk mengidentifikasi perilaku kasar. Setelah pengguna diidentifikasi sebagai troll yang melecehkan, tweet pengguna akan didorong ke bawah dalam respons Twitter dan pencarian, tidak peduli apa isi tweet tersebut.
Konsep di balik desain ulang algoritma adalah mengurangi munculnya troll di dalam lini masa secara tajam.
"Kami sedang mengatasi masalah perilaku dengan mengubah dan menurunkannya dari percakapan publik di area tersebut, dengan mengintegrasikan sinyal perilaku baru ke dalam sistem yang berkaitan dengan bagaimana tweet disajikan," kata eksekutif Twitter Del Harvey dan David Gasca dalam sebuah pernyataan.
"Dengan menggunakan alat baru untuk mengatasi dari perspektif perilaku, kami dapat meningkatkan percakapan dan pengalaman yang sehat semua orang di Twitter tanpa menunggu pengguna melaporkan potensi masalah kepada kami."
Sejak didirikan pada 2006, Twitter dikenal sebagai plarform yang menyediakan percakapan publik yang hampir tak terbatas. Minim penyensoran menjadi menjadi kunci utama pelayanan Twitter, namun kemudian muncul masalah dengan kelompok penyebar kebencian dan ekstremis brutal yang menggunakan layanan ini untuk menyebarkan pesan-pesan negatif.
CEO Twitter Jack Dorsey mengatakan algoritma ini adalah langkah terbaru untuk mengurangi meyebarnya akun bermasalah.
"Percakapan yang lebih sehat adalah tujuan kami, dan bagaimana kami mengukur kemajuan kami," Dorsey tweeted Selasa.
Perusahaan mengatakan bahwa dalam pengujian awal di seluruh dunia, algoritma baru telah menghasilkan penurunan 8 persen dalam jumlah laporan penyalahgunaan yang berasal dari interaksi pengguna di platform.