Erdogan Cagatay Zontur
ANKARA
Presiden Recep Tayyip Erdogan mengatakan Turki adalah kunci perdamaian di Libya saat diskusi mengenai negara di Afrika Utara dibahas dua kali dalam seminggu.
“Meninggalkan Libya dengan membawa belas kasihan dari panglima perang akan menjadi kesalahan bersejarah," ujar Erdogan kepada organisasi berita Politico jelang konferensi Libya di Berlin.
Pernyataan Erdogan datang dalam sebuah artikel berjudul Jalan Menuju Perdamaian di Libya Ditempuh Melalui Turki.
Presiden Turki memperingatkan Eropa akan adanya ancaman baru jika gagal mendukung pemerintah Libya yang diakui secara internasional yakni Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA).
"Potensi kegagalan Uni Eropa untuk secara memadai mendukung Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) Libya akan menjadi pengkhianatan terhadap nilai-nilai intinya sendiri, termasuk demokrasi dan hak asasi manusia," kata Erdogan.
''Selain itu, Eropa akan menghadapi serangkaian masalah dan ancaman baru jika pemerintah sah Libya jatuh,'' tambah Erdogan.
Erdogan juga mengatakan "pilihan yang jelas bagi Eropa adalah bekerja dengan Turki" karena tidak banyak yang tertarik untuk memberikan dukungan militer ke Libya.
Turki akan melatih pasukan keamanan Libya dan membantu mereka memerangi terorisme, perdagangan manusia dan ancaman serius lainnya terhadap keamanan global, tambah Erdogan.
Pada 12 Januari, pihak-pihak yang bertikai dalam konflik Libya mengumumkan gencatan senjata sebagai tanggapan atas seruan bersama oleh Turki dan Rusia.
Namun pembicaraan untuk kesepakatan gencatan senjata permanen berakhir tanpa kesepakatan pada Senin setelah panglima perang Libya Khalifa Haftar meninggalkan Moskow tanpa menandatangani kesepakatan.
Pembicaraan damai di Jerman
Jerman akan menjadi tuan rumah konferensi perdamaian di Libya yang akan mencari komitmen untuk menyepakati gencatan senjata demi membuka jalan bagi solusi politik.
"Konferensi perdamaian di Berlin adalah langkah yang sangat signifikan menuju tujuan itu," ujar Erdogan, menekankan Uni Eropa perlu menunjukkan kepada dunia bahwa mereka adalah aktor yang relevan di arena internasional.
Kanselir Angela Merkel mengundang para pemimpin Turki, Rusia, AS, China, Prancis, Inggris serta aktor-aktor regional lainnya ke konferensi satu hari di Berlin pada Minggu.
Konferensi ini digelar di tengah rapuhnya gencatan senjata antara pemerintah Libya yang diakui dunia internasional dan pasukan pemberontak pimpinan panglima Khalifa Haftar.
Pemerintah Jerman menggarisbawahi bahwa pertemuan satu kali ini tidak dapat mengakhiri konflik.
Sejak penggulingan penguasa Muammar Khaddafi pada 2011, dua kursi kekuasaan telah muncul di Libya: satu di Libya timur yang didukung oleh Mesir dan Uni Emirat Arab, dan lainnya di Tripoli, yang mendapatkan pengakuan PBB dan dunia internasional.