Rhany Chairunissa Rufinaldo
28 Mei 2019•Update: 28 Mei 2019
Riyaz ul Khaliq
ANKARA
Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Senin mengatakan bahwa dia memandang penembakan rudal Korea Utara baru-baru ini berbeda dari Jepang karena tidak adanya pengujian nuklir oleh Pyongyang selama dua tahun terakhir.
Setelah perdana menteri Jepang mengatakan Presiden AS mendukung upayanya untuk terlibat dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un, Trump mendesak Kim untuk melakukan denuklirisasi.
Berbicara dalam konferensi pers bersama Abe Shinzo, Trump mengatakan denuklirisasi semenanjung Korea akan mengubah negara miskin itu, lansir kantor berita Yonhap yang berbasis di Seoul.
"Hanya hal buruk yang bisa terjadi dengan senjata nuklirnya," kata Trump.
Bertentangan dengan Trump, Abe mengatakan beberapa saat kemudian bahwa peluncuran rudal balistik jarak pendek Korea Utara pada 9 Mei adalah pelanggaran terhadap resolusi Dewan Keamanan.
"Ini sangat disesalkan," tambah dia, seperti dikutip kantor berita Jepang Kyodonews.
Pekan lalu, di Tokyo, Penasihat Keamanan Presiden AS John Bolton mengatakan tidak ada keraguan bahwa peluncuran rudal balistik adalah pelanggaran terhadap resolusi PBB.
Namun, Korea Utara mengecam pernyataan Bolton dan menyebut penasihat keamanan tersebut sebagai seorang "maniak perang".
Sementara itu, Trump saat ini sedang dalam kunjungan kenegaraan empat hari ke Jepang, di mana dia bertemu Abe serta kaisar baru Naruhito dan mengadakan negosiasi perdagangan dan bilateral lainnya.
Dia telah mengadakan dua pertemuan tingkat tinggi dengan Kim sejak Juni 2018, tetapi belum ada langkah nyata menuju denuklirisasi di semenanjung itu, sementara Pyongyang menjatuhkan kesalahan pada Washington atas macetnya perundingan antara kedua negara.
Ketika ditanya tentang peluncuran rudal Pyongyang, Trump mengatakan dia memandang peluncuran uji coba rudal baru-baru ini secara berbeda.
Dia mengatakan bahwa selama dua tahun proses negosiasi dengan Kim, tidak ada uji coba nuklir dan rudal jarak jauh.
Trump mengungkapkan harapannya agar Kim menggunakan kesempatan ini untuk mengubah negaranya melalui denuklirisasi.
"Ini adalah negara dengan potensi ekonomi dan lainnya yang luar biasa," ujar dia.
Presiden AS juga menegaskan bahwa dia sama sekali tidak terburu-buru untuk kembali berunding dengan Kim