04 Maret 2018•Update: 05 Maret 2018
Ahmet Gurhan Kartal
LONDON
Presiden AS Donald Trump "telah mengadopsi sebuah narasi pendudukan" dengan pengakuannya terhadap Yerusalem sebagai ibu kota Israel, ungkap seorang anggota parlemen Israel pada Minggu.
"Salah satu elemen paling berbahaya dalam deklarasi Trump terhadap Yerusalem sebagai ibu kota Israel adalah ketika dia mengatakan bahwa Israel punya hak untuk menentukan ibu kotanya sendiri sebab pemerintahan dan parlemennya berada di Yerusalem," jelas Dr Ahmad Tibi, anggota Arab-Muslim Knesset (parlemen Israel).
Pada Desember tahun lalu, Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa dia memutuskan untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan memindahkan Kedutaan AS dari Tel Aviv ke kota yang diperebutkan itu.
Pergeseran dramatis dalam politik AS menuai badai protes dan kecaman dari dunia Arab dan Muslim.
Tibi yang menjadi salah satu pembicara pada panel di London yang diorganisir oleh kelompok Pengawas Timur Tengah berkata: "Trump telah melindungi dan menyesuaikan narasi pendudukan."
"Mengatakan kepada Palestina bahwa Anda tidak punya apa-apa sementara mengatakan kepada Israel bahwa Anda punya segalanya -- Anda tidak bisa mencapai persetujuan," tukas Tibi.
"Kami tahu ide dan komponennya, Trump tidak mengejutkan kami. Trump tidak menyelesaikan masalah Yerusalem maupun perbatasan, tidak menyelesaikan isu pengungsi, dan isu kedaulatan... ini lebih dari jelas bahwa dia tidak merundingkan pidatonya dengan Palestina.
"Pidato Trump betul-betul mengadopsi Perdana Menteri Israel. Didukung oleh [Jason] Grenblatt, [David] Friedman, [Jared] Kushner -- tiga pendekar. Ketiganya merupakan pendukung yang lebih mantap dibandingkan setengah Knesset! Saya yakin itu, saya tinggal di sana."