Maria Elisa Hospita
07 Januari 2019•Update: 07 Januari 2019
Muhammed Boztepe
ANKARA
Bayi kembar Rohingya, yang jantungnya sempat berhenti berdetak ketika masih berada dalam kandungan ibu mereka, berhasil dihidupkan kembali oleh tim dokter Turki.
Lewat sebuah pernyataan yang dirilis pada Minggu, Otoritas Manajemen Darurat dan Bencana Turki (AFAD) mengatakan bahwa seorang perempuan yang mengandung 32 minggu menderita kejang karena tekanan darah tinggi, kemudian dibawa ke Rumah Sakit Sahra di Bangladesh, yang dibangun oleh AFAD dan Kementerian Kesehatan Turki.
Pasien itu menjalani operasi sesar setelah dokter gagal mendengar detak jantung bayi.
Tim medis Turki kemudian berhasil menghidupkan kembali bayi kembar yang diberi nama Amaorara dan Ameorara.
Ibu dan bayinya dipulangkan dari rumah sakit setelah mereka pulih.
Rumah sakit Turki
Turki bersedia untuk terus membantu Muslim Rohingya - yang melarikan diri dari operasi militer di Myanmar dan berusaha bertahan hidup di Bangladesh - sejak awal krisis kemanusiaan di wilayah tersebut.
AFAD, yang mengkoordinasikan bantuan Turki di wilayah itu, mendirikan kamp-kamp dan menggali sumur untuk Rohingya.
Selama setahun terakhir, lebih dari 180.000 pasien telah dirawat dan 1.215 pasien menjalani operasi di Rumah Sakit Sahra. Selain itu, 106 bayi lahir di rumah sakit tersebut.
Rohingya, yang disebut-sebut oleh PBB sebagai kaum paling teraniaya di dunia, telah menghadapi sejumlah serangan sejak belasan orang tewas dalam kekerasan komunal pada 2012.
Sejak 25 Agustus 2017, sekitar 750.000 pengungsi, kebanyakan anak-anak dan perempuan, melarikan diri dari Myanmar ketika tentara Myanmar melancarkan serangan ke kelompok Muslim minoritas.