Rhany Chairunissa Rufinaldo
06 Juni 2020•Update: 06 Juni 2020
Fatma Eda Topcu
ISTANBUL
Perusahaan RD Global INVAMED memulai studi klinis untuk terapi yang dikembangkan oleh ilmuwan Turki guna mengobati sejumlah penyakit akibat virus, termasuk Covid-19.
"Proses studi klinis, yang memungkinkan implementasi pada pasien, telah dimulai untuk metode pengobatan TurkishBeam setelah penerapannya pada Kementerian Kesehatan [Turki] disetujui," kata ahli bedah kardiovaskular Hikmet Selcuk Gedik dari Universitas Gazi di Ankara dalam sebuah pernyataan yang dirilis oleh RD Global INVAMED
TurkishBeam adalah sistem pengobatan sinar yang pertama kali diciptakan dan dikembangkan oleh perusahaan Turki setelah tiga tahun penelitian oleh para ilmuwan dengan nama UVC Selektif-Sensitif dan Terapi Laser TurkishBeam, atau disingkat dengan TurkishBeam.
Metode yang dapat digunakan di dalam tubuh manusia untuk pertama kalinya itu dipandang sebagai langkah global oleh Turki yang akan mengubah paradigma.
Proses dimulai dengan studi tentang mikroorganisme, seperti virus dan bakteri, dan dilanjutkan dengan analisis toksikologis.
Pengembangan mencapai tahap studi klinis setelah selesainya studi pada hewan dan kultur sel manusia.
Sejak November 2019, kelompok ini fokus pada studi tentang Covid-19 menggunakan metode yang sama.
Pada 4 Mei, Kementerian Kesehatan menyetujui aplikasi untuk studi klinis. Setelah diumumkan kepada otoritas medis internasional, mereka secara resmi diundang untuk pengujian dan kerjasama dengan Klinik Cleveland di AS dan Universitas New York.
Menurut para peneliti, pengobatan ini memastikan penghancuran total organisme seperti mikroorganisme, jamur, bakteri dan virus dan tidak merusak sel dan DNA manusia.
Pada April, fase studi klinis secara resmi dimulai setelah pendaftaran paten internasionalnya diajukan.
Sejak pertama kali muncul di Wuhan, China, pada Desember lalu, virus korona telah menyebar ke setidaknya 188 negara dan wilayah.
Menurut data yang dikumpulkan oleh Johns Hopkins University Amerika Serikat, lebih dari 6,7 juta kasus telah dilaporkan di seluruh dunia sejak Desember lalu, dengan angka kematian melebihi 394.000 dan lebih dari 2,7 juta dinyatakan sembuh.