Rıskı Ramadhan
20 Februari 2018•Update: 21 Februari 2018
Adham Kako, Fatih Hafiz Mehmet
GHOUTA TIMUR/ANKARA
Sedikitnya 58 warga sipil tewas dan 45 lainnya luka-luka dalam serangan terbaru rezim di pinggiran Damaskus, Ghouta Timur, Suriah pada Senin, menurut sumber pertahanan sipil setempat.
Pasukan Rezim meluncurkan sejumlah serangan udara dan darat ke beberapa distrik di pinggiran kota tersebut.
Sejumlah 20 warga sipil, termasuk wanita dan anak-anak, tewas akibat serangan udara di daerah Hammuriya di Ghouta Timur, kata sumber yang berafiliasi dengan badan pertahanan sipil White Helmets.
Sejumlah 14 orang tewas dalam serangan darat dan udara di daerah Saqba, sementara empat lainnya tewas akibat serangan udara di Jisrin, tambah sumber yang tak ingin disebutkan namanya karena alasan keamanan tersebut.
Bom barel rezim dan serangan darat di daerah Beit Sawa mengakibatkan 17 warga sipil tewas dan 45 lainnya cedera.
Dua warga sipil dilaporkan tewas akibat serangan udara di daerah Kafr Batna, sementara satu lainnya tewas akibat serangan darat di daerah Zamalka.
Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Federica Mogherini dan Komisioner Eropa untuk Bantuan Kemanusiaan dan Manajemen Krisis Christos Stylianides pada Senin malam merilis sebuah pernyataan tertulis bersama mengenai situasi kemanusiaan di Ghouta Timur dan Idlib.
Pernyataan tersebut mengatakan bahwa akses kemanusiaan yang tidak terhambat untuk warga sipil di Suriah serta perlindungan warga sipil dan infrastruktur merupakan persoalan mendesak untuk mencegah bertambahnya korban jiwa.
"Masyarakat internasional harus bersatu untuk menghentikan penderitaan manusia ini," tegas pernyataan tersebut.
Ghouta Timur termasuk dalam jaringan zona de-eskalasi yang didukung oleh Turki, Rusia dan Iran, di mana tindakan agresi dilarang keras.
Meski begitu, rezim Suriah terus menargetkan daerah pemukiman kota tersebut dan telah menewaskan sedikitnya 539 orang serta melukai lebih dari 2.000 lainnya sejak 29 Desember tahun lalu.
Ghouta Timur yang terletak di pinggiran kota Damaskus merupakan rumah bagi sekitar 400.000 penduduk yang setengahnya merupakan anak-anak.
Sejak akhir 2012, daerah tersebut tersebut masih berada di bawah kepungan rezim Assad.
Suriah telah dirundung konflik sejak perang sipil meletus pada Maret 2011, ketika rezim Bashar al-Assad menyerang aksi demonstrasi kelompok pro-demokrasi dengan brutal.