Maria Elisa Hospita
10 Juli 2019•Update: 11 Juli 2019
Elena Teslova
MOSKOW
Presiden Rusia Vladimir Putin menentang pemberlakuan sanksi baru untuk Georgia meskipun hubungan kedua negara sempat memanas karena krisis.
Putin menegaskan bahwa dia tidak akan melakukan apa pun untuk memperumit hubungan Rusia-Georgia.
"Ada yang menentang politik anti-Rusia di Georgia. Oleh karena itu, demi memulihkan hubungan dua negara, saya tidak akan melakukan apa-apa," tegas dia pada Selasa.
Dalam sebuah pernyataan terpisah, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menyebut inisiatif anggota parlemen untuk memberlakukan sanksi baru sebagai "reaksi alami terhadap penghinaan Georgia".
Aksi protes meletus di ibu kota Georgia, Tbilisi, pada 22 Juni, yang dipicu kunjungan seorang anggota parlemen Rusia.
Sergei Gavrilov, seorang wakil Komunis dari Duma Negara (Kekaisaran Rusia), menyampaikan pidato dari kursi ketua parlemen yang kemudian memicu kegemparan.
Pada Selasa, Duma memperkenalkan undang-undang untuk menambah sanksi terhadap Georgia.
Pada 2008, Tbilisi berperang dengan Rusia selama lima hari di wilayah Ossetia Selatan dan Abkhazia.
Georgia kehilangan kendali atas kedua wilayah tersebut, sementara Rusia kemudian mengakui keduanya sebagai negara merdeka.