Rhany Chairunissa Rufinaldo
09 Oktober 2020•Update: 09 Oktober 2020
Rabia Iclal Turan
ANKARA
Penghargaan Nobel Perdamaian tahun ini diberikan kepada Program Pangan Dunia PBB (WFP) atas upayanya memerangi kelaparan.
Komite Nobel Norwegia mengumumkan pada Jumat bahwa ketika dunia dalam bahaya krisis kelaparan, WFP bertindak sebagai kekuatan pendorong dalam upaya mencegah penggunaan kelaparan sebagai senjata perang dan konflik.
Ketua Komite Hadiah Nobel Perdamaian Berit Reiss-Andersen mengatakan dalam konferensi pers bahwa mereka bertujuan untuk mengalihkan pandangan dunia kepada jutaan orang yang menderita atau menghadapi ancaman kelaparan.
Pandemi Covid-19 telah berkontribusi pada peningkatan jumlah korban kelaparan di seluruh dunia, seperti Yaman, Republik Demokratik Kongo, Nigeria, Sudan Selatan dan Burkina Faso.
Dalam menghadapi pandemi, Program Pangan Dunia telah menunjukkan kemampuan yang mengesankan untuk mengintensifkan upayanya.
"Seperti yang telah dinyatakan oleh organisasi itu sendiri, 'Sampai hari kita memiliki vaksin medis, makanan adalah vaksin terbaik untuk melawan. kekacauan'," ungkap komite itu.
Kelaparan dan kerawanan pangan dapat menyebabkan konflik, seperti halnya konflik dapat menyebabkan kelaparan dan kerawanan pangan.
"Program Pangan Dunia memainkan peran kunci dalam kerjasama multilateral dalam menjadikan ketahanan pangan sebagai instrumen perdamaian dan telah berkontribusi kuat untuk memobilisasi Negara Anggota PBB memerangi penggunaan kelaparan sebagai senjata perang dan konflik," tambah komite.
WFP menyampaikan ucapan terima kasih kepada komite Nobel atas hadiahnya melalui Twitter.
"Ini adalah pengingat yang kuat bagi dunia bahwa perdamaian dan #BebasKelaparan berjalan seiring," tulis WFP.
Pemenang Hadiah Nobel Perdamaian mendapatkan hadiah bernilai SEK10 juta (Rp.16,6 miliar).
Penghargaan Nobel Perdamaian tahun lalu diberikan kepada Perdana Menteri Ethiopia Abiy Ahmed atas upayanya mencapai perdamaian dan kerja sama internasional dan atas inisiatifnya untuk menyelesaikan konflik perbatasan dengan negara tetangga Eritrea.
Penghargaan juga pernah diberikan kepada mantan Presiden AS Jimmy Carter (2002) dan Barack Obama (2009), aktivis Malala Yousafzai (2014), Uni Eropa (2012) dan Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan (2001).