ANKARA
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan sejawatnya dari Ukraina pada Senin membahas kondisi perang di Ukraina, upaya melanjutkan negosiasi perdamaian, dan pentingnya membangun koridor yang aman.
Turki telah melakukan segala upaya untuk melanjutkan negosiasi antara Ukraina dan Rusia, dan siap memberikan lebih banyak dukungan, termasuk mediasi, kata Erdogan kepada Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy via telepon, menurut sebuah pernyataan dari Direktorat Komunikasi Turki.
Erdogan juga mengatakan bahwa negaranya sangat mementingkan upaya untuk membangun koridor yang aman untuk mengekspor produk pertanian Ukraina melalui jalur laut.
Sejak perang dimulai pada 24 Februari, Rusia memotong aliran ekspor Ukraina dengan memblokir Laut Hitam.
Penghentian ekspor telah menyebabkan harga pangan yang lebih tinggi di seluruh dunia dan menimbulkan kekhawatiran akan kekurangan pangan secara global.
Mengenai kemungkinan pusat pemantauan Ukraina yang akan berpusat di kota metropolis Turki Istanbul, Erdogan mengatakan bahwa Turki memiliki pandangan positif untuk mengambil bagian dalam mekanisme seperti itu dengan partisipasi Ukraina, Rusia, dan PBB.
Pertemuan tingkat tinggi pertama dan terbaru sejak perang dimulai para menteri luar negeri Ukraina dan Rusia berlangsung pada 10 Maret di sela-sela Forum Diplomasi Antalya Turki, sementara pada 29 Maret, para perunding dari kedua negara bertemu di Istanbul.
Lebih dari 4.000 warga sipil telah tewas dan hampir 5.000 lainnya terluka di Ukraina sejak perang dimulai pada 24 Februari, menurut perkiraan PBB. Jumlah korban sebenarnya diyakini jauh lebih tinggi.
Lebih dari 6,7 juta orang telah melarikan diri ke negara lain, sementara lebih dari 7,7 juta telah mengungsi, menurut badan pengungsi PBB.