Merve Aydogan
09 Mei 2018•Update: 10 Mei 2018
Merve Aydogan
ANKARA
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada Rabu menandai perayaan Hari Eropa, berkata bahwa Uni Eropa (EU) tidak akan lengkap tanpa Turki sebagai negara anggota penuh.
Hari Eropa, yang juga dikenal sebagai Hari Schuman, diadakan setiap tahun pada 9 Mei untuk memperingati Deklarasi Schuman pada 1950 yang mengusulkan terbentuknya Komunitas Batu Bara dan Baja Eropa, pendahulu Uni Eropa.
Erdogan, melalui pernyataan tertulis berkata meski UE telah menjadi "contoh untuk integrasi politik", unifikasi ini tidak akan lengkap sampai mereka mau menerima Turki sebagai negara anggota penuh.
"Seiring dengan meningkatnya ketidakpastian global di masa kini, UE menghadapi tantangan-tantangan serius dalam tatanan global, seperti hak asasi manusia, supremasi hukum, demokrasi, persamaan hak, dan keadilan, nilai-nilai yang mereka klaim menjadi dasar pembangunan UE," ujar Erdogan.
Dia juga menekankan ancaman terbesar untuk masa depan UE adalah yang ditimbulkan oleh Eropa sendiri. Erdogan menyontohkan diskriminasi yang meluas, rasisme, xenophobia, dan Islamophobia di benua tersebut.
"Bersatunya Turki selain akan memberi kontribusi ekonomi, politik dan sosial, juga akan memberi kesempatan UE memerangi ancaman-ancaman ini."
Erdogan sekali lagi menegaskan tekad Turki untuk tetap menjalani proses keanggotaan UE.
Turki mendaftarkan keanggotaan kepada UE pada 1987 sementara pembicaraan aksesi dimulai pada 2005.
Meski begitu, negosiasi terhenti pada 2007 karena keberatan dari pemerintahan Siprus Yunani di pulau Siprus yang terbagi, termasuk juga dari oposisi Jerman dan Prancis.
Untuk bisa mendapatkan keanggotaan, Turki harus berhasil menyelesaikan negosiasi tentang 35 bab kebijakan yang melibatkan reformasi dan penerapan standar Eropa.
Hingga Mei 2016, total 16 bab telah dibuka dengan satu kesimpulan didapat. Namun, pada Desember 2016, negara-negara anggota EU berkata tidak akan ada babak kebijakan yang dibuka.