Muhammad Nazarudin Latief
05 Agustus 2019•Update: 06 Agustus 2019
Muhammad Latief
JAKARTA
Perusahaan-perusahaan China memindahkan sebagian besar operasi mereka ke Malaysia di tengah perang dagang antara China dengan Amerika Serikat (AS).
Kepala IQI Global Shan Saeed mengatakan ada banyak investasi China yang akan masuk ke Vietnam.
"Beberapa negara benar-benar mendapat manfaat dari perang perdagangan ini,” ujar dia kepada Bernama, Senin.
“Jika Anda mengambil majalah Economist November lalu, dinyatakan bahwa beberapa negara yang mendapat manfaat dalam teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dan sektor mobil berasal dari Malaysia, Thailand dan Vietnam."
Dia memperkirakan perang dagang AS-China terus berlanjut.
Kamis lalu, Presiden Donald Trump mengancam akan mengenakan tarif tambahan 10 persen pada impor China senilai sekitar 300 miliar dolar mulai bulan depan.
Hari berikutnya, China mengancam akan ada tindakan balasan dalam menanggapi pengumuman Trump.
Saat ini kedua negara diprediksi terjerumus pada perang perdagangan yang lebih dalam dan memperbesar potensi kerusakan pada ekonomi mereka.
"Pemerintah Malaysia mengendalikan total ekonomi dan neraca keuangannya juga terlihat sangat kuat dengan investor masih memandang negara itu dengan baik," ujar dia.
Shan mengatakan ekonomi Malaysia diperkirakan akan tumbuh 4,5-5,0 persen pada akhir tahun ini.
"Sementara itu, ringgit akan stabil dan mengikuti pergerakan harga minyak dan Yuan China," ujar dia.
Harga minyak mentah Brent berada di USD61,15 per barel.
Menurut Shan pada paruh kedua 2019, pola investasi dan konsumsi akan tetap solid dengan pertumbuhan secara keseluruhan masih sangat kuat untuk Malaysia.