Mohamed Sheikh Yusuf
24 November 2017•Update: 27 November 2017
Mohamed Sheikh Yusuf
ISTANBUL
Oposisi Suriah menekankan proses transisi tidak akan mulai berjalan sebelum Bashar Assad dan loyalisnya angkat kaki.
Hal itu dinyatakan dalam konferensi kedua oposisi Suriah di Riyadh.
Dalam pernyataannya, oposisi menegaskan konferensi ini digelar untuk mewujudkan, “masa transisi Suriah ke sistem politik demokratis dan plural, yang membawa warga Suriah bersama di tanah airnya,” ujar oposisi dalam pernyataannya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa proses politik di Suriah "belum mencapai tujuan yang diinginkan, karena pelanggaran rezim atas hukum internasional terus berlanjut, dan tidak menjalankan resolusi Dewan Keamanan terkait perlindungan warga sipil Suriah dan mengangkat blokade atas mereka" .
"Penting untuk memastikan pelaksanaan proses transisi menjamin keamanan setiap warga dalam secara aman, stabil dan tenang," menekankan bahwa hal ini tidak akan terjadi tanpa kepergian Bashar al-Assad dan pendukungnya. Begitu juga dengan sistem represi dan tirani pada awal fase transisi.
Para peserta menekankan kesetiaan mereka terhadap integritas dan kedaulatan negara Suriah di seluruh wilayah manapun tanpa menguranginya.
Pernyataan tersebut juga menyatakan penentangan oposisi Suriah terhadap ekstremisme dan terorisme dalam segala bentuk, “serta campur tangan regional dan internasional, terutama peran Iran dalam mendestabilisasi kawasan, dan membuat perubahan demografis di dalamnya. "
Para peserta juga berjanji mempertahankan dan mereformasi institusi negara Suriah dengan merestrukturisasi institusi keamanan dan militernya, serta menjamin hak-hak personilnya.
Oposisi menegaskan institusi negara Suriah yang sah dipilih oleh masyarakat melalui Pemilu yang bebas dan adil, “adalah satu-satunya yang berhak memegang dan menggunakan senjata".