Chandni Vasandani
23 Agustus 2017•Update: 25 Agustus 2017
Michael Hernandez
WASHINGTON
Menteri Luar Negeri Rex Tillerson mengancam memberikan penalti berat terhadap Pakistan pada Selasa bila mereka tidak makin giat memusnahkan Taliban.
Sanksi yang bisa dihadapi Pakistan antara lain pencabutan status mereka sebagai sekutu non-NATO dan pengurangan bantuan kemanusiaan dan militer dari AS.
“Semua itu menjadi opsi,” kata Tillerson pada wartawan. “Namun pada akhirnya adalah keputusan Pakistan untuk memilih apa yang terbaik bagi mereka dalam jangka panjang, dari sisi keamanan negara dan warganya.
“Bila saya adalah pemerintah Pakistan, saya akan semakin khawatir dengan kekuasaan Taliban,” tambahnya.
Pernyataan itu muncul sehari setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana yang barunya terkait Afghanistan. Trump mengingatkan Islamabad “bisa rugi banyak” bila tetap melindungi Taliban dan kelompok-kelompok teror lainnya.
Pakistan menepis semua komentar itu dan mengatakan kecewa AS tidak menyadari pengorbanan yang telah mereka lakukan untuk memerangi terorisme.
“Tidak ada negara lain di dunia yang melakukan sebanyak Pakistan untuk menumpas terorisme. Tidak ada negara lain yang sudah menderita seperti Pakistan menanggung beban terorisme, yang sering datang dari luar garis perbatasan kami,” bunyi pernyataan resmi dari Kementerian Luar Negeri Pakistan.
“Ancaman pada kedamaian dan keamanan tidak bisa dipisahkan dari masalah geopolitik yang rumit, adanya perselisihan dan pencarian kebijakan hegemoni,” tambah mereka.
Warga Pakistan, sebut Tillerson, memainkan peranan besar dalam menciptakan kedamaian dan stabilitas di luar Afganistan. Dia pun mendorong Islamabad membawa Taliban ke meja perundingan.
Taliban terus menjadi sumber instabilitas di Afghanistan sejak pasukan yang dipimpin AS mengusir mereka pada 2001. Sejak saat itu mereka bersuaka di Pakistan yang terletak bersebelahan dengan Afganistan sambil merencanakan pemberontakan.
Tillerson mengatakan, Taliban harus sadar mereka tidak akan memenangi perang ini.
“Mungkin kami tidak akan menang telak, tapi begu juga mereka,” kata dia. “Pada suatu saat kita harus memikirkan opsi negosiasi dan mengakhiri peperangan ini.”
Selain mengharap kerja sama Pakistan, kebijakan baru Trump adalah mencari dukungan dari musuh bebuyutan Islamabad, India.
AS menginvasi Afghanistan menyusul tragedi 11 September 2001. Mereka mengusir Taliban yang memberi perlindungan pada pendiri al-Qaeda yang kini sudah meninggal, Osama bin Laden.
Namun beberapa tahun belakangan ini, Taliban dan sejumlah kelompok ekstremis lainnya tumbuh semakin kuat, sementara pemerintahan Kabul yang didukung AS malah kesulitan menegaskan kewenangannya di negara yang dirundung konflik itu.