Safvan Allahverdi
03 Januari 2018•Update: 04 Januari 2018
Safvan Allahverdi
WASHINGTON
Sebuah masjid di Fort Smith, Arkansas memilih berbesar hati untuk membayar denda seorang pria yang turut merusak bangunan masjid itu tahun lalu dan menyelamatkan dia dari penjara.
"Kami ingin mengubah situasi yang buruk itu menjadi sesuatu yang baik," kata penjaga masjid itu pada Selasa.
Abraham Davis ditemukan memakai cat semprot untuk menggambar simbol swastika dan tulisan "kembali pulang" di jendela dan pintu Masjid Al Salam pada Oktober 2016.
Tindakan Davis itu tertangkap oleh kamera CCTV dan dia dinyatakan bersalah.
Sebagai hukuman, dia harus membayar denda sebesar USD3.200 dan diharuskan melakukan pelayanan masyarakat. Namun karena masalah keuangan, Davis tidak mampu membayar denda itu yang bisa diganti ganjaran pejara selama enam tahun.
Di tengah kesulitannya itu, Masjid Al Salam memutuskan membantunya dengan membayar sebagian dari denda itu - sebanyak USD1.730 - sementara sisanya dibayar oleh pendonor.
Hisham Yasin, direktur sosial di masjid itu, mengatakan mereka menerima "sumbangan yang besar" untuk perbaikan masjid dari sebuah LSM setelah insiden Oktober lalu.
"Saya mengatakan kepada dewan masjid agar kita sebaiknya membayar sisa denda Davis karena dia bagian dari kisah masjid ini dan kita harus dermawan," jelas Yasin kepada Anadolu Agency.
"Kami memutuskan situasi ini bisa diubah dari hal yang buruk menjadi hal yang baik serta menunjukkan kebaikkan Islam dan komunitas kami."
Dia mengatakan komunitas umat Islam di Fort Smith sangat kecil, jadi mereka tidak banyak diketahui warga.
"Tidak ada diskriminasi di sini sebelum insiden tersebut," ujar Yasin. Setelah aksi vandalisme itu, mereka menerima banyak dukungan dari penduduk sekitar.
Davis menyampaikan penyesalan atas tindakannya setelah dimaafkan oleh pemimpin-pemimpin masjid.
"Saya menyakiti kalian semua dan saya dihantui oleh itu. Dan bahkan setelah aksi saya, Anda masih memaafkan saya," tulisnya dalam sebuah surat kepada masjid.
Minimnya pengetahuan tentang Islam menjadi alasan di balik aksi vandalisme atau kekerasan terhadap komunitas Muslim di AS, menurut Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR).
"Saya pikir dengan mengambil langkah ini, Masjid Al Salam mengirimkan tanda belas kasih yang bisa dipahami para pelaku," terang Ibrahim Hooper, direktur media CAIR, kepada Anadolu Agency.
Dia mengatakan mereka yang fanatik anti-Islam berada di bawah pengaruh "internet, radio, Fox News" dan media lainnya yang memiliki agenda sendiri.
Menurut laporan CAIR, jumlah kekerasan kebencian anti-Muslim di AS naik 91 persen pada pertengahan awal 2017 bila dibandingkan rentang waktu yang sama pada 2016.