Maria Elisa Hospita
02 Maret 2021•Update: 02 Maret 2021
Khaled Majdoub
RABAT
Maroko menangguhkan semua kontak dengan Kedutaan Besar Jerman di Rabat sejak Senin.
Kementerian Luar Negeri Maroko mengatakan Maroko memutuskan langkah itu "karena ketidaksepakatan yang mendalam mengenai masalah-masalah krusial" tanpa merinci lebih lanjut.
"Perbedaan mendalam mengenai masalah penting Maroko mengharuskan pemutusan hubungan antara kementerian dan lembaga pemerintah dengan mitra Jerman mereka," kata kementerian.
Sejauh ini kedutaan Jerman belum berkomentar soal ini.
Khaled Yaymout, seorang peneliti hubungan internasional Maroko, mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa pemutusan hubungan Rabat dengan kedutaan dipicu oleh masalah wilayah Sahara.
Menurut dia, Maroko keberatan dengan hubungan teknis dan militer antara Jerman-Aljazair yang mendukung [Front] Polisario.
Front Polisario adalah sebuah organisasi politik-militer yang didukung oleh Aljazair.
Selain itu, Jerman juga akan menentang pengaturan negara-negara anggota Uni Eropa yang mendukung keputusan Washington baru-baru ini untuk mengakui kedaulatan Maroko atas wilayah Sahara.
Pada 10 Desember 2020, AS mengumumkan pengakuannya terhadap kedaulatan Maroko atas wilayah Sahara dan membuka konsulat di Kota Dakhla, wilayah sengketa antara Rabat dan Front Polisario.
Sejak tahun 1975, Maroko dan Front Polisario memperebutkan wilayah Sahara.
Sengketa itu berubah menjadi konfrontasi bersenjata yang berlangsung hingga 1991 setelah tercapainya kesepakatan gencatan senjata di bawah mediasi PBB.
Rabat menegaskan haknya atas wilayah Sahara dan mengusulkan otonomi yang diperluas di bawah kedaulatannya, sementara Polisario telah menyerukan referendum untuk menentukan nasib wilayah tersebut.