Rhany Chairunissa Rufinaldo
25 September 2019•Update: 26 September 2019
Michael Hernandez
WASHINGTON
Korea Selatan mengusulkan agar zona demiliterisasi (DMZ) yang memisahkan negara itu dengan Korea Utara dijadikan zona perdamaian internasional untuk menjamin perdamaian di Kemenanjung Korea.
Presiden Moon Jae-in mengutarakan visinya untuk DMZ dalam sambutan sebelum bersidang Majelis Umum PBB ke-74 di New York.
"Perbatasan itu mendeskripsikan tragedi yang ditimbulkan oleh konfrontasi militer selama 70 tahun, tetapi secara paradoks itu telah menjadi harta karun ekologis yang asli," ungkap Moon.
Dia mengatakan zona itu juga telah menjadi ruang simbolis yang penuh dengan sejarah yang mencakup tragedi perpecahan sebagaimana diwujudkan oleh area keamanan bersama, pos jaga dan pagar kawat berduri serta kerinduan akan perdamaian.
"DMZ adalah warisan umum dari umat manusia dan nilainya harus dibagi dengan seluruh dunia," ujar Moon.
Zona demiliterisasi telah membagi Semenangjung Korea selama 66 tahun setelah penandatanganan gencatan senjata yang menghentikan perang pada 1953.
Moon mengatakan begitu perdamaian antara Seoul dan Pyongyang diwujudkan, dia akan bekerja untuk menjadikan DMZ, yang membentang sepanjang 250 kilometer dari timur ke barat dengan lebar 4 kilometer, sebagai situs warisan dunia UNESCO.
"Jika zona perdamaian internasional diwujudkan, semenanjung itu akan berevolusi menjadi negara penghubung yang menghubungkan benua dan lautan dan memfasilitasi perdamaian dan keamanan," tutur dia.
Moon menekankan bahwa pembentukan zona perdamaian internasional akan memberikan jaminan institusional dan realistis bagi keamanan Korea Utara.
Pada saat yang sama, tambah dia, Korea Selatan juga akan memperoleh perdamaian permanen.
Menurut sang presiden, ada ratusan ribu ranjau anti-personil yang diperkirakan berada di area tersebut dan akan memakan waktu 15 tahun bagi Korea Selatan untuk memusnahkannya jika negara itu bertindak sendiri.
"Tetapi waktu akan berjalan sangat cepat dengan bantuan internasional," pungkas dia.