Nani Afrida
25 November 2019•Update: 25 November 2019
James Tasamba
GOMA, Republik Demokratik Kongo
Korban tewas akibat kecelakaan pesawat di dekat Bandara Goma di Republik Demokratik Kongo timur naik menjadi 29 pada Minggu, lapor pihak otoritas.
Menteri Kesehatan provinsi Kivu Utara Moise Kanyere mengatakan kepada wartawan bahwa jumlah korban tewas telah meningkat dari 23 yang dilaporkan sebelumnya.
Sebuah pesawat turboprop kembar Dornier-228 milik perusahaan swasta Busy Bee sedang menuju ke Beni, sekitar 350 kilometer (220 mil) utara Goma, ketika pesawat itu jatuh tiga menit setelah lepas landas di distrik Mapendo dekat bandara di provinsi Kivu Utara, menurut Kanyere .
Korban tewas termasuk 18 penumpang, dua anggota awak dan sembilan warga di darat.
Pihak berwenang setempat mengatakan bahwa korban di lapangan adalah anggota keluarga yang sama, yang sedang bersiap untuk pergi ke kebaktian gereja Minggu.
Sementara enam belas orang yang terluka dibawa ke dua rumah sakit setempat untuk dirawat.
Pejabat perusahaan menghubungkan kecelakaan itu dengan masalah teknis.
Sumber mengatakan ledakan keras terjadi di salah satu mesin pesawat beberapa saat setelah lepas landas.
Seorang saksi mata di Goma mengatakan warga berusaha memadamkan api dari puing-puing yang membara dengan air menggunakan ember dan panci masak sebelum tim penyelamat tiba.
Kecelakaan pesawat relatif sering terjadi di DR Kongo karena pemeliharaan pesawat yang buruk dan standar keselamatan udara yang rendah.
Bulan lalu, sebuah pesawat kargo jatuh satu jam setelah lepas landas, menewaskan semua penumpang dan kru setelah berangkat dari bandara yang sama di Goma.
Pada bulan September 2017, sebuah pesawat kargo Antonov yang disewa oleh tentara jatuh di dekat ibu kota, Kinshasa, menewaskan semua 12 orang di dalamnya.
Operator komersial DR Kongo, termasuk Busy Bee, dilarang terbang ke wilayah udara Uni Eropa karena kurangnya standar keamanan.