Komisaris Uni Eropa untuk Urusan Dalam Negeri Ylva Johansson dan Wakil Presiden Turki Fuat Oktay pada Selasa membahas perkembangan terakhir di Suriah dan Afghanistan.
“Dalam pertemuan itu kami membahas perkembangan dari situasi di Afghanistan dan isu lain yang menjadi perhatian – tantangan yang hanya dapat diselesaikan dengan bekerja sama,” kata Johansson di Twitter.
Turki menampung pengungsi paling banyak di dunia, terutama warga Suriah, ujar Johansson.
Secara terpisah, Menteri Dalam Negeri Turki Suleyman Soylu bertemu Nikolaus Meyer-Landrut, kepala Delegasi Uni Eropa (UE) untuk Turki.
“Dalam lingkup Pertemuan Dialog Tingkat Tinggi Pertama tentang Migrasi dan Keamanan, kami telah mengadakan konsultasi yang konstruktif dan bermanfaat tentang terorisme dan keamanan, manajemen migrasi, memerangi narkoba dan perdagangan manusia, memerangi penyelundupan dan kejahatan terorganisir, serta sebagai perkembangan saat ini,” kata Soylu di Twitter.
Dia berterima kasih kepada delegasi atas pendekatannya yang jujur terhadap isu-isu global dan regional, dan berharap untuk lebih meningkatkan dan memperkuat kerja sama dan koordinasi.
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan bahwa perkembangan terakhir di Afghanistan meningkatkan risiko arus imigrasi, dan Turki, yang menampung lebih dari 4 juta pengungsi, “tidak dapat memikul beban migrasi baru.”
Berpidato di pertemuan luar biasa G20 melalui konferensi video, Erdogan mengusulkan kelompok kerja terkait Afghanistan di bawah forum internasional.
Ribuan warga Afghanistan telah meninggalkan negara itu untuk melarikan diri agar tidak hidup di bawah kekuasaan Taliban sejak kelompok itu mengambil alih kekuasaan pada 15 Agustus.
Dalam sebuah pernyataan setelah pertemuan tersebut, G20 mengatakan untuk mengurangi tekanan pada negara-negara kawasan, "pilihan jalur yang aman dan legal dari negara-negara ini untuk pengungsi Afghanistan dapat bekerja sama dengan UNHCR."
Presiden Turki menambahkan bahwa negara-negara G20 akan mendukung inisiatif yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas manajemen perbatasan di kawasan itu "untuk mencegah perdagangan gelap dan pergerakan ilegal."