Muhammad Abdullah Azzam
10 Januari 2020•Update: 11 Januari 2020
Muhammed Boztepe
ANKARA
Berkat upaya gigih polisi Turki, satu keluarga Kurdi bertemu kembali dengan anak mereka, yang diculik oleh kelompok teroris PKK, setelah lima tahun menahan rindu.
Menurut laporan dari pasukan keamanan, lima anggota organisasi PKK menyerahkan diri pada Kamis kepada pihak berwenang Turki di gerbang perbatasan Habnak di Turki timur, setelah polisi melakukan upaya pembujukan.
Satu di antara mereka yang menyerahkan diri, adalah Ibrahim Halil Kadran yang merupakan cucu Halime Kadran dan keponakan G.A., yang mana keduanya mengikuti aksi duduk melawan kelompok teror PKK di depan kantor Partai HDP di Provinsi Diyarbakir.
Aksi protes itu dimulai sejak 3 September di luar kantor Partai Rakyat Demokratik (HDP), partai yang dituduh oleh pemerintah memiliki hubungan dengan teroris YPG/PKK di Diyarbakir.
Warga Turki Fevziye Cetinkaya, Remziye Akkoyun dan Aysegul Bicer mengatakan anak-anak mereka telah direkrut secara paksa oleh teroris PKK.
Sejak itu, jumlah keluarga di depan gedung bertambah karena mereka menuntut anak-anak mereka, yang mereka klaim ditipu atau diculik oleh para teroris.
G.A. dan nenek Kadran yang mengikuti aksi protes untuk pembebasan anak yatim itu berkomunikasi dengan Ibrahim Halil Kadran, sang keluarga bersama polisi berusaha membujuknya dan membimbingnya untuk melarikan diri dari kelompok teror itu.
Kini empat keluarga telah bersatu kembali dengan anak-anak mereka yang diculik. Aksi protes tersebut sudah memasuki hari ke-130.
Ketika investigasi mereka berlangsung, para teroris yang menyerah diberikan banyak kesempatan, termasuk hak-hak pendidikan dan kebebasan untuk hidup tanpa rasa takut dan penindasan.
Mereka tidak diperlakukan dengan buruk, dapat menghubungi keluarga mereka secara bebas dan diberikan bantuan konsultasi pengadilan. Pemerintah Turki menawarkan berbagai layanan untuk memastikan integrasi mereka ke dalam masyarakat.
Menurut pernyataan mereka, pemimpin kelompok teror PKK mempertaruhkan nyawa teroris lain untuk menyelamatkan nyawanya sendiri dan mengancam mereka yang berencana menyerahkan diri dengan penyiksaan.
Dalam kampanye terornya melawan Turki selama 30 tahun lebih, PKK/YPG - yang terdaftar sebagai organisasi teroris oleh Turki, Amerika Serikat, dan Uni Eropa - bertanggung jawab atas kematina 40.000 jiwa, termasuk perempuan, anak-anak, dan bayi.