Marıa Elısa Hospıta
19 Januari 2020•Update: 20 Januari 2020
Ayhan Şimşek
BERLIN
Jelang konferensi Libya di Berlin, Kanselir Jerman Angela Merkel menyempatkan diri untuk bertemu dengan putra mahkota dari Uni Emirat Arab.
Lewat sebuah pernyataan, juru bicara kanselir mengatakan Merkel dan Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan membahas upaya gencatan senjata dan penyelesaian konflik yang sedang berlangsung di LIbya.
"Keduanya menyambut baik gencatan senjata yang disepakati beberapa hari lalu. Mereka juga mendesak pihak-pihak yang bertikai untuk menyepakati gencatan senjata permanen," jelas Steffen Seibert.
Selain itu, Merkel dan bin Zayed juga membahas reformasi institusi dan keamanan di negara itu untuk memerangi terorisme dan ekstremisme.
UEA dan Mesir adalah pendukung utama komandan Khalifa Haftar, yang meluncurkan serangan untuk merebut Tripoli dari Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) Libya sejak April lalu.
Menurut PBB, lebih dari 1.000 tewas dan 5.000 lainnya terluka akibat serangan pasukan Haftar.
Meskipun Zayed berhalangan hadir di Konferensi Libya, tetapi UEA akan mengirimkan menteri luar negeri sebagai representatifnya.
Merkel telah mengundang kepala negara Turki, Rusia, Amerika Serikat, China, Prancis, dan Inggris untuk menghadiri Konferensi Libya.
Pada 12 Januari, pihak-pihak yang bertikai mengumumkan gencatan senjata sebagai respons terhadap desakan pemimpin Turki dan Rusia.
Namun, negosiasi kesepakatan gencatan senjata mandek awal pekan ini, setelah Haftar meninggalkan Moskow tanpa meneken kesepakatan.
Fayez al-Sarraj, perdana menteri dari pemerintah yang diakui internasional, dan komandan Haftar diperkirakan akan menghadiri konferensi di Berlin.