Rabia Iclal Turan
12 Februari 2026•Update: 13 Februari 2026
WASHINGTON
Jaksa Agung Amerika Serikat Pam Bondi terlibat adu argumen dengan sejumlah anggota Partai Demokrat dalam sidang Komite Kehakiman DPR pada Rabu (12/2), setelah menolak secara langsung meminta maaf kepada para korban jaringan perdagangan seks yang melibatkan mendiang finansier Jeffrey Epstein.
Anggota Kongres Pramila Jayapal meminta 11 penyintas Epstein yang hadir di ruang sidang untuk berdiri dan mengangkat tangan jika mereka belum pernah dapat bertemu dengan Departemen Kehakiman. Seluruhnya menyatakan belum pernah mendapat kesempatan tersebut.
Jayapal kemudian mendesak Bondi untuk meminta maaf kepada para korban atas apa yang disebutnya sebagai perlakuan tidak dapat diterima, termasuk dalam proses publikasi dokumen terkait kasus Epstein.
Bondi menolak permintaan itu dan justru merujuk pada pendahulunya, serta menuduh Jayapal melakukan “drama politik.”
“Saya tidak akan ikut bermain dalam teatrikal seperti ini,” kata Bondi, ketika perdebatan berubah menjadi adu teriakan di ruang sidang.
Sejumlah anggota Demokrat lainnya juga menekan Bondi terkait jumlah dugaan rekan konspirator Epstein yang telah didakwa, serta mengkritik praktik penyuntingan (redaksi) dokumen yang dirilis pemerintah berdasarkan undang-undang yang mewajibkan keterbukaan arsip kasus Epstein.
Para legislator dan penyintas menilai Departemen Kehakiman melindungi nama-nama tertentu yang diduga terkait, namun gagal menyamarkan informasi identitas korban secara memadai.
Bondi membela kinerja pemerintah dengan menyatakan lebih dari tiga juta halaman dokumen telah dirilis, serta menyebut Presiden Donald Trump sebagai “presiden paling transparan dalam sejarah negara.”
Departemen Kehakiman AS baru-baru ini merilis lebih dari tiga juta halaman dokumen, 2.000 video, dan 180.000 gambar berdasarkan Epstein Files Transparency Act yang disahkan pada November lalu.
Jeffrey Epstein ditemukan tewas di sel penjara New York pada 2019 saat menunggu persidangan atas dakwaan perdagangan seks. Ia sebelumnya mengaku bersalah pada 2008 di Florida atas kasus melibatkan anak di bawah umur, namun vonis tersebut menuai kritik karena dinilai terlalu ringan.
Para korban menuduh Epstein menjalankan jaringan perdagangan seks luas yang melibatkan kalangan elit kaya dan politik.