Israel: Putin minta maaf atas pernyataan menlunya tentang Yahudi
Presiden Rusia dan PM Israel membahas evakuasi warga sipil melalui koridor kemanusiaan PBB dan Palang Merah di tengah perang Rusia-Ukraina
YERUSALEM
Perdana Menteri Israel Naftali Bennett menerima permintaan maaf dari presiden Rusia atas pernyataan menteri luar negeri Rusia tentang orang Yahudi, menurut pemerintah Israel pada Kamis.
Presiden Rusia Vladimir Putin dan Bennett bercakap via telepon dan membahas pernyataan Menlu Rusia Sergey Lavrov tentang orang Yahudi, kata kantor Pers Pemerintah Israel.
Pernyataan itu mengungkapkan bahwa Bennett menerima permintaan maaf dari Putin atas pernyataan Lavrov, dan berterima kasih kepadanya karena telah menjelaskan pendiriannya terhadap orang-orang Yahudi dan masalah Holocaust.
Keduanya juga membahas evakuasi warga sipil, termasuk warga sipil yang terluka, melalui koridor kemanusiaan PBB dan Palang Merah.
Menurut pernyataan Kremlin Kamis pagi, Putin mengingat bahwa sekitar 40 persen dari 6 juta orang Yahudi yang disiksa di ghetto dan kamp konsentrasi dan dibunuh oleh Nazi selama operasi hukuman.
"Pada malam Hari Kemenangan dalam Perang Patriotik Hebat, yang dirayakan di Rusia dan Israel pada 9 Mei, Vladimir Putin dan Naftali Bennett menekankan pentingnya khusus tanggal ini bagi orang-orang di kedua negara, yang menghargai kebenaran sejarah tentang peristiwa tahun-tahun itu dan menghormati memori semua yang gugur, termasuk korban Holocaust," kata pernyataan itu.
Bennett, pada gilirannya, mencatat kontribusi yang menentukan dari Tentara Merah untuk kemenangan atas Nazisme.
Dalam sebuah wawancara dengan saluran televisi Italia pada Minggu, Lavrov mengatakan fakta bahwa presiden Ukraina adalah orang Yahudi tidak bertentangan dengan klaim Moskow bahwa pihaknya melancarkan serangan untuk "mendenazifikasi" negara tersebut.
"Saya percaya bahwa Hitler juga memiliki darah Yahudi," ungkap menlu Rusia itu.
