Betül Yılmaz
20 Juni 2025•Update: 29 Juli 2025
ISTANBUL
Iran pada Kamis menuduh pengawas nuklir PBB “mengaburkan kebenaran” tentang program nuklir negaranya.
Tuduhan itu muncul setelah Direktur Jenderal Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) Rafael Grossi mengatakan bahwa pengawas tidak memiliki bukti adanya upaya sistematis Iran untuk mengembangkan senjata nuklir.
"Ini sudah terlambat, Tuan Grossi: Anda mengaburkan kebenaran ini dalam laporan Anda yang sangat bias yang dimanfaatkan oleh E3/AS untuk menyusun resolusi dengan tuduhan tak berdasar tentang 'ketidakpatuhan'," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Esmaeil Baqaei di akun resmi X miliknya.
Minggu lalu, IAEA menemukan Iran melanggar kewajiban nuklirnya untuk pertama kalinya dalam 20 tahun.
Dalam resolusi yang didorong oleh Jerman, Prancis, dan Inggris – tiga negara Eropa yang menandatangani kesepakatan nuklir Iran 2015 – dan didukung oleh AS, pengawas nuklir PBB menuduh Iran “tidak mematuhi” kesepakatan nuklir tersebut.
“Resolusi yang sama kemudian digunakan, sebagai dalih terakhir oleh rezim yang suka berperang dan melakukan genosida untuk melancarkan perang agresi terhadap Iran dan melancarkan serangan yang melanggar hukum terhadap fasilitas nuklir damai kami,” kata Baqaei, mengacu pada Israel.
"Tahukah Anda berapa banyak warga Iran tak berdosa yang terbunuh/cacat akibat perang kriminal ini? Apakah seperti itu cara seorang pegawai negeri sipil internasional diuji untuk menduduki jabatan pimpinan PBB?"
Juru bicara Iran menuduh direktur IAEA menjadikan pengawas PBB tersebut “mitra dalam perang agresi yang tidak adil ini.”
“Anda mengubah IAEA menjadi alat yang memudahkan negara-negara non-NPT untuk merampas hak dasar anggota NPT berdasarkan Pasal 4. Apakah Anda punya hati nurani yang bersih?!"
“Narasi yang menyesatkan memiliki konsekuensi yang mengerikan, Tuan Grossi, dan menuntut akuntabilitas,” kata Baqaei.
Perang dimulai pada Jumat lalu ketika Israel melancarkan serangan udara ke beberapa lokasi di Iran, termasuk fasilitas militer dan nuklir, yang mendorong Teheran untuk melancarkan serangan balasan.
Otoritas Israel mengatakan sedikitnya 24 orang tewas dan ratusan lainnya terluka sejak serangan rudal Iran.
Sementara itu, 585 orang tewas dan lebih dari 1.300 orang terluka akibat serangan Israel di Iran, menurut laporan media Iran.